MAKALAH
PROSEDUR
SUPERVISI PENDIDIKAN
MATA KULIAH : SUPERVISI PENDIDIKAN
DOSEN PENGAMPU : Dina Puspita D, S.Pd., M.Pd
DISUSUN OLEH :
KELOMPOK 6
1.
ISTI ROHANA
(T.MPI.1.2019.045)
2.
FADLIL HUDA (T.MPI.1.2019.058)
SEKOLAH TINGGI AGAMA
ISLAM (STAI SMQ) BANGKO
PROGRAM STUDI
MANAJEMEN PENDIDIKAN ISLAM
TAHUN AJARAN 2021
KATA PENGANTAR
Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT
atas rahmat dan hidayahnya kami diberikan kesehatan untuk dapat menyelesaikan
makalah ini. Shalawat beserta salam senantiasa
tercurah kepada Nabi Muhammad SAW beserta keluarga sahabatnya. Makalah ini
diajukan sebagai salah satu tugas mata kuliah Supervisi
Pendidikan pada program Manajemen Pendidikan Islam Sekolah Tinggi Agama Islam
(STAI) SMQ BANGKO, dimana judulnya adalah Prosedur Supervisi Pendidikan.
Dalam penyusunan makalah ini,
tentunya tidak mungkin terlaksana apabila tanpa semangat, dukungan, serta
bimbingan dari pihak-pihak yang sangat kami hormati. Oleh karena itu, pertama
saya ingin mengucapkan terima kasih kepada Ibu Dina Puspita D, S.Pd., M.Pd selaku dosen
mata kuliah Supervisi Pendidikan yang
telah membimbing kami dalam menyusun makalah ini.
Akhirnya makalah ini dapat
terselesaikan pada waktu yang diharapkan, dan kami berharap mudah-mudahan
makalah ini dapat bermanfaat, amin.
Bangko, 20 Maret 2021
Isti rohana
Penulis
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR
i
DAFTAR ISI..............................................
ii
BAB I : PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang............................... 1
B.
Rumusan Masalah............................... 1
C.
Tujuan Masalah............................... 1
BAB II : PEMBAHASAN
A.
Proses
Pengembangan Kurikulum............................... 2
BAB III : PENUTUP
A.
Kesimpulan............................. 12
B.
Saran............................. 12
DAFTAR PUSTAKA.......................................... 13
BAB
I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Zaman
mengalami perkembangan dan perubahan di berbagai bidang. Perkembangan dan
perubahan tersebut dapat mempengaruhi perubahan sistem pendidikan. Pada zaman
sekarang, pendidikan menjadi hal penting dalam kehidupan bermasyarakat, karena
dengan pendidikan dapat merubah kualitas hidup seseorang. Hal dapat dibuktikan
ketika semakin tinggi pendidikan maka wawasan ilmu dan pengalaman yang dimiliki
juga bertambah sehingga memudahkan seseorang dalam menyelesaikan masalah dalam
kehidupan. Salah satu pondasi pendidikan adalah kurikulum sehingga apabila
terjadi perkembangan zaman dari berbagai bidang
dapat mempengaruhi sistem pendidikan, maka terjadi pula perkembangan
kurikulum. Problem-problem yang muncul pada masyarakat juga mendorong perubahan
sistem pendidikan. Kurikulum hadir untuk menyelesaikan problem dan menjawab
tuntutan di masyarakat. Kurikulum disusun untuk memudahkan berjalannya proses
pendidikan yang ada. Dalam kurikulum
terdapat proses pengembangan yang secara umum terdiri dari perencanaan,
implementasi dan evaluasi. Proses pengembangan ini bertujuan untuk menciptakan
kurikulum yang efektif. Terdapat beberapa tokoh yang merumuskan tahapan dalam
pengembangan kurikulum. Akan tetapi pada proses pengembangan kurikulum
dipengaruhi oleh beberapa faktor yang mendukung, ada pula hambatan-hambatan dalam pengembangan
kurikulum.
B.
Rumusan Masalah
1.
Bagaimana
Proses Pengembangan Kurikulum?
C.
Tujuan Masalah
1.
Untuk
Mengetahui Tentang Proses Pengembangan Kurikulum
BAB
II
PEMBAHASAN
A.
Proses
Pengembangan Kurikulum
Kurikulum merupakan salah satu komponen penting dalam
pendidikan, kurikulum diartikan sebagai suatu program yang disediakan untuk
siswa. Sebagaimana yang dijelaskan oleh Oemar Hamalik dalam buku manajemen
pengembangaan kurikulum, kurikulum merupakan suatu program yang disediakan
untuk siswa. Program pendidikan dalam bentuk kegiatan belajar, tujuannya untuk
meningkatkan perkembangan dan pertumbuhan siswa yang disesuaikan dengan tujuan
pendidikan. Pengembangan kurikulum merupakan suatu proses yang menyeluruh
sebagai bentuk kebijakan nasional dalam pendidikan yang disesuaikan dengan
visi, misi dan strategi yang dimiliki dari pendidikan nasional. Proses
pengembangan kurikulum mulai dari perencanaan, pelaksanaan, monitoring dan
evaluasi.[1]
Dalam perencaan
kurikulum dimulai dengan merumuskan ide yang akan dikembangkan menjadi program. Ide dalam
perencaan kurikulum berasal dari:
1. Visi yang dicanangkan
2. Kebutuhan stakeholders dan kebutuhan untuk studi jenjang
berikutnya
3. Hasil evaluasi kurikulum yang telah digunakan dan tuntutan
perkembangan ipteks dan zaman
4. Pandangan berbagai pakar keilmuan
5. perkembangan era globalisasi, di mana seseorang dituntut untuk memiliki etos belajar
sepanjang hayat, memperhatikan bidang sosial, ekonomi. Politik, budaya dan
teknologi.
Dari ide di atas kemudian dikembangkan rancangan program dalam
bentuk dokumen seperti format silabus. Rancangan tersebut dikembangkan lagi
dalam bentuk rencana pembelajaran yang akan dilaksanakan seperti RPP atau SAP.
Rencana tersebut berisi tentang langkah pembelajaran untuk siswa. Setelah
rencana tersebut diterapkan kemudian dievaluasi sehingga dapat diketahui
tingkat efektivitasnya. Dari hasil evaluasi ini akan diperoleh bekal untuk
menyempurnakan kurikulum berikutnya.
Dari penjelasan di atas
proses pengembangan kurikulum secara umum terdiri dari perencanaan,
implementasi, serta evaluasi. Selain proses kurikulum secara umum diatas, ada
empat tahap pengembangan kurikulum dilihat dari tingkatannya antara lain:
1. Pengembangan kurikulum pada tingkat nasional. Pengembangan
kurikulum pada tingkat ini membahas pendidikan pada tingkat nasional yang
terdiri dari pendidikan formal, informal, dan non formal. Dari tingkatannya
dapat dilihat secara vertikal dan horizontal. Secara vertikal,
pengembangan kurikulum dilakukan berdasarkan tingkatan pendidikan dari yang
terendah sampai ke tinggi. Sedangkan Secara horizontal, pengembangan kurikulum
berdasarkan pendidikan yang sederajat, seperti
contoh SD, MI, dan program paket
A.[2]
2. Pengembangan
kurikulum pada tingkat institusi Pengembangan kurikulum tingkat ini memiliki
beberapa kegiatan yangb harus dilaksanakan antara lain, merumuskan tujuan yang
akan dicapai sekolah, menyusun SKL (standar kompetensi lulusan), dan penetapan
isi kurikulum secara keseluruhan. Standar kompetensi lulusan berupa rumusan
kompetensi pengetahuan, keterampilan, dan sikap yang harus dicapai oleh siswa
setelah mengikuti pembelajaran pada lembaga pendidikan. SKL tersebut dirumuskan
sesuai dengan jenis dan tingkatannya.
Standar kompetensi lulusan menunjukkan harapan masyarakat, seperti
orangtua, penjabat pemerintah dan swasta tentang dunia pendidikan, dunia usaha,
dan lain-lain, serta merupakan harapan bagi pendidikan jenjang tinggi atau
dunia kerja.8 3. Pengembangan kurikulum
pada tingkat mata pelajaran Silabus merupakan bentuk pengembangan kurikulum
pada tingkat mata pelajaran. Silabus yang terdiri dari kompetensi inti,
kompetensi dasar, materi pokok, kegiatan pembelajaran, indikator pencapaian,
bentuk penilaian dan alokasi waktu disusun pada setiap semester.9
4. Pengembangan kurikulum pada tingkat
pembelajaran di kelas. Pada tingkat pembelajaran dikelas pengembangan kurikulum
dilakukan dalam bentuk susunan RPP ( Rencana Pelaksanaan Pendidikan) yang
dirancang oleh masing-masing guru. Perencanaan tersebut juga meliputi sumber
belajar yang akan digunakan.10
Penjelasan
di atas merupakan bentuk pengembangan kurikulum pada tiap-tiap tingkatannya.
Masing-masing tingkatan memiliki tugas masing-masing dalam proses pengembangan
kurikulum, akan tetapi tetap disesuaikan dengan
tujuan pendidikan nasional. Sedangkan menurut Hamalik proses
pengembangan kurikulum yang digunakan di Indonesia dimulai dengan melihat
kebutuhan yang ada. Dari studi kebutuhan serta kelayakan kemudian menyusun
rencana kurikulum, rencana awal
Ø Tahapan Pengembangan
Kurikulum Menurut Para Ahli
dikembangkan menjadi rencana yang
akan diterapkan dalam pelaksanaan kurikulum. Rencana tersebut di uji coba
terlebih dahulu di lapangan sebelum kurikulum dilaksanakan secara menyeluruh.
Setelah dilaksanakan secara menyeluruh kemudian dilakukan penilaian untuk
melihat tingkat keberhasilan kurikulum. Hasil penilaian dapat digunakan untuk
perbaikan kurikulum yang telah ada. 11
Ada beberapa para Ahli yang
merumuskan tahapan-tahapan pengembangan kurikulum, sebagai berikut:
1.
Model
administratif
adalah model
tertua yang pernah digunakan. Pengembangan dengan model adminisratif dilakukan
oleh administrator pendidikan yang membentuk suatu tim pengarahan pengembangan
kurikulum. Model administratif sering pula disebut sebagai model garis.
Sehingga pengembangan kurikulum diarahkan dari penjabat pendidikan yang berada
di atas. Kemudian membentuk tim pengarahan yang terdiri dari pengawas, kepala
sekolah dan pengajar. Tim pengarahan memiliki ugas untuk merencanakan,
memberikan pengarahan, merumuskan falsafah dan tujuan umum pendidikan.[3]
Selanjutnya, tim pengarahan membentuk kelompok kerja untuk menyusun
tujuan pendidikan, rencana pengajaran, dan kegiatan pembelajaran. Hasil kerja
kelompok tersebut direvisi oleh tim pengarah dan dilakukan uji coba. Kegiatan
uji coba bertujuan untuk melihat tingkat efektifitas dan kelayakannya. Tim
pengarah menelaah dan mengevaluasi uji coba rancangan kurikulum kemudian
memutuskan pelaksanaannya. Pengembangan kurikulum model administratif
tersebut dapat dilaksanakan pada negara yang dengan
sistem karena model ini dari pusat ke
bawah . Kekurangan model ini kurikulum
biasanya bersifat seragam secara nasional sehingga tidak disesuaikan dengan
kebutuhan tiap-tiap daerah.[4]
Dalam pelaksanaan kurikulum tersebut, dilakukan kegiatan
monitoring, pengamatan, pengawasan, dan bimbingan yang kemudian dilakukan pula
evaluasi yang hasilnya di gunakan
untuk umpan balik bagi instansi pendidikan tingkat pusat,
daerah, dan sekolah. Dalam pelaksanaannya perlu adanya pengawasan. Kekurangan
model ini dapat dijadikan pertimbangan dalam memilih model pengembangan
kurikulm karena tuntutan masing-masing daerah berbeda-beda.
2. Menurut Arich Lewy
Menurut Arich Lewy (1977) proses pengembangan
kurikulum dilaksanakan melalui beberapa tahapan sebagaimana yang dikutip dalam
buku dasar-dasar pengembangan kurikulum
karya Burhan Nurgiyanto terdiri dari penentuan tujuan umum, perencanaan, uji
coba dan revisi, uji lapangan, pelaksanaan kurikulum dan pengawasan mutu
kurikulum. Penjelasan dari enam tahap
pengembangan menurut Arich Lewy, tahap pertama yang dilakukan dalam proses
pengembangan kurikulum adalah merumuskan tujuan kurikulum secara umum. Tujuan
kurikulum tersebut meliputi nilai dan kompetensi yang harus dimiliki oleh
peserta didik setelah mengikuti pelaksanaan kurikulum. Dalam merumuskan tujuan
ini, para pengembang kurikulum bekerja sama dengan para ahli disiplin ilmu
termasuk psikolog, sosiolog, antropolog, dan pakar-pakar ilmu lainnya yang
relevan. Pakar-pakar ini dianggap mampu memberikan kontribusi pemikirannya
untuk merumuskan tujuan umum kurikulum. Berdasarkan tahaapan pertama,
selanjutnya pengembang kurikulum menyusun perencanaan kurikulum, mulai dari
perencanaan umum (silabus) sampai dengan perencanaan khusus (RPP) dalam
berbagai kegiatan (intrakulikuler, ekstrakulikuler maupun kokulikuler) sesuai
dengan organisasi kurikulum yang diinginkan.
3. Model Rogers
Terdapat tahap pengembangan kurikulum dengan model Rogers. tahap
pertama yang dilakukan yaitu memilih target yang akan ikut serta dalam kelompok
intensif dari sistem pendidikan, selanjutnya guru berpartisipasi dalam
pengalaman guru. Pengalaman yang ada dikembangkan pada masingmasing kelas.
Dibutuhkan pula partisipasi orang tua dalam kegiatan
kelompok.17 Akan tetapi dalam tahapan model ini tidak
semua orang tua ikut serta dalam menyusun kurikulum. Orang tua memiliki peran
lebih besar pada saat pelaksanaan kurikulum. Karena dalam proses belajar tidak
hanya berlangsung di sekolah tetapi juga di rumah, sehingga orang tua ikut
mendampingi dan mengawasi kegiatan
belajar siswa di rumah. Orang tua juga dapat turut berpartisipasi dalam
kegiatan di sekolah melalui berbagai kegiatan seperti diskusi, pertemuan dengan
guru dan pelaporan hasil belajar. Dari kegiatan tersebut dapat menjadi umpan balik untuk menyempurnakan
kurikulum.[5] Proses
pengembangan kurikulum dengan model rogers lebih memperhatikan subyek yang
berpegaruh dalam pelakasanaan kurikulum.
4.
Menurut Tyler
Menurut Tyler,
tahapan pengembangan kurikulum terdiri dari empat tahapan mulai dari menentukan
tujuan hingga penilaian. Pertama, menentukan tujuan pengembangan kurikulum,
tahapan yang harus dilakukan pertama yaitu menentukan tujuan dari pengembangan
kurikulum. Sehingga dapat diketahui arah dan sasaran pencapaian pendidikan.
Kedua, menentukan pengalaman belajar siswa. Setelah menentukan tujuan kemudian
pada tahap selanjutnya dilakukan penentuan pengalaman belajar ( learning
experiences). Pengalaman belajar merupakan kegiatan interaksi siswa dengan
lingkungan. Pengalaman belajar siswa dapat ditemui dalam proses pembelajaran.
Terdapat beberapa prinsip dalam menentukan pengalaman belajar yaitu pengalaman disesuaikan dengan tujuan
yang hendak dicapai, setiap pengalaman
harus memuaskan siswa, siswa terlibat dalam perencanaan pengalaman
belajar, dan dalam pengalaman belajar siswa memiliki tujuan yang
berbeda-beda. Ketiga, pengorganisasian
pengalaman belajar. Pengorganisasian ini dibagi menjadi 2 jenis yaitu secara
vertikal dan horizontal. Untuk pengorganisasian secara vertikal menghubungkan
pengalaman belajar suatu kajian ilmu yang sama pada tingkatan yang berbeda.
Sedangkan secara horizontal menghubungkan pengalaman belajar beberapa bidang
pada tingkat yang sama. Keempat, penilaian tujuan belajar sebagai komponen yang
dijadikan perhatian utama
5.
Beauchamp
Ada lima tahapan dalam mengembangkan suatu kurikulum yang pertama
menetapkan lingkup wilayah yang akan di cakup oleh kurikulum tersebut (sekolah,
kecamatan, kabupaten, propinsi, Negara). Tahapan lingkup wilayah ini ditentukan oleh pihak yang memiliki wewenang
untuk mengambil kebijakan dalam pengembangan kurikulum. Setelah menetapkan
lingkup wilayah kemudian menetapkan personalia yaitu pihak yang ikut dalam proses pengembangan
kurikulum. Menurut Beauchamp pihak
tersebut antara lain, para ahli pendidikan ataupun ahli kurikulum yang berada
di tingkat pusat, perguruan tinggi dan sekolah.
Selain itu juga para profesional dalam sistem pendidikan serta
tokoh-tokoh masyarakat yang berpengaruh dalam pendidikan.[6] Dalam
model ini melibatkan para ahli
dan tokoh pendidikan yang berpengaruh pada pengembangan kurikulum baik secara
langsung maupun tidak. Penetapan ini disesuaikan dengan tingkat dan luas wilayah. Sebagaimana untuk
tingkat provinsi dan nasional tidak
begitu melibatkan guru. Sebaliknya untuk tingkat dibawahnya seperti kabupaten,
kecamatan, dan sekolah keterlibatan guru lebih besar dalam pengembangan
kurikulum. Organisasi dan prosedur pengembangan kurikulum. Langkah ini
berkenaan dengan prosedur yang harus ditempuh dalam merumuskan tujuan umum dan
tujuan khusus, memilih isi dan pengalaman belajar serta kegiatan evaluasi, dan
dalam menentukan keseluruhan desain kurikulum. Selanjutnya mengimplementasikan
kurikulum dan mengevaluasi.
1.
Menurut Taba
Proses pengembangan
kurikulum menurut taba dapat dilakukan dengan lima langkah. Dimulai
dengan Mengadakan unit-unit eksperimen bersama guru-guru Didalam unit ini
diadakan studi yang seksama tetang hubungan antara teori dan praktik.
Perencanaan didasarkan atas teori yang kuat,
dan pelaksanaan eksperimen didalam kelas menghasilkan data-data yang untuk
menguji landasan teori yang digunakan. Ada 8 langkah dalam kegiatan unit
eksperimen menurut Taba yaitu ,Mendiagnosis kebutuhan, merumuskan tujuan-tujuan
khusus, memilih isi, mengorganisasi isi, memilih pengalaman belajar,
mengorganisasi pengalaman belajar, mengevaluasi, melihat sekuens dan
keseimbangan22 Selanjutnya menguji unit
eksperimen, kegiatan ini dilaksanakan tidak hanya pada kelas ekperimen tetapi
di uji juga pada kelas atau tempat lain sehingga dapat diketahui tingkat
validitas dan juga dapat memperoleh data untuk penyempurnaan. Data yang
diperoleh dari tahapan pengujian kemudian digunakan untuk perbaikan dan
penyempurnaan. Selain melakukan revisi
atau perbaikan juga diadakan konsolidasi, pada kegiatan ini dilakukan penarikan
kesimpulan mengenai hal yang bersifat umum, karena unit eksperimen yang telah
digunakan belum tentu valid untuk sekolah yang lain.23 Setelah melakukan kegiatan revisi dan
konsolidasi, kemudian mengembangkan
keseluruhan kerangka kurikulum. Pada tahapan ini dilaksanakan pengkajian
oleh ahli kurikulum, tujuannya untuk mengetahui konsep dan landasan yang
digunakan seusia atau tidak. Kemudian
kurikulum baru diterapkan pada daerah yang lebih luas tidak hanya
sekolah yang digunakan untuk eksperimen. Sehingga dengan langkah ini dapat
diketahui maslah yang dihadapi, baik yang berkaitan dengan pendidik, fasilitas
hingga pembiayaan.
Ø
Faktor yang
Mempengaruhi Proses Pengembangan Kurikulum
Dalam pengembangan kurikulum ada
beberapa faktor yang mempengaruhi antara lain:
1. Perguruan tinggi Kurikulum minimal mendapatkan 2 pengaruh dari
perguruan tinggi yaitu dari segi pengembangan IPTEK yang dikembangkan perguruan
tinggi dan dari segi pengembagan ilmu pendidikan dan keguruan serta penyiapan
pendidik yang ada diperguruan tinggi.
Pengetahuan dan teknologi memberikan sumbanga terhadap isi kurikulum dan
proses pembelajaran.Pengetahuan dna teknologi banyak memberikan sumbangan bagi
isi kurikulum serta proses pembelajaran. Pengetahuan yang berkembang di
perguruan tinggi juga mempengaruhi isi materi ajar yang ada di kurikulum.
perkembangan teknologi juga mendukung pengembangan kurikulum pada komponen alat
dan media pendidikan.
2. Masyarakat
Sekolah merupakan bagian dari masyarakat dan mempersiapjkan anak untuk
kehidupan di masyarakat. Sebagai bagian dari mayarakat, sehingga pendidikan di
sekolah dipengaruhi oleh lingkungan sekitar. Isi kurikulum yang ada seyogyanya
dapat menjawab tuntutan dan kebutuhan yang ada di lingkungan masyarakat.
3. Sistem nilai Dalam lingkungan masyarakat
terdapat sistem nilai, baik moral, agama, sosial, budaya, dan nilai politis. Seperti yang dijelaskan diatas
sekolah sebagai bagian dari masyarakat
dan salah satu lembaga mayarakat memiliki tanggung jawab untuk memelihara
sistem nilai yang telah ada.. Sistem nilai yang akan dipelihara terintegrasikan
dalam kurikulum. Masalah yang dihadapi dalam pemeliharaan sistem nilai
adalah masyarakat bersifat heterogen dan
multifaset, sehingga masing-masing kelompol etnis, vokasiomal, intelek, sosial,
spiritual, dan sebagainya memiliki nilai
yang berbeda.
Selain
faktor-faktor diatas ada pula hambatan-hambatan pengemabngan kurikulum,
hambatan yang pertama terletak pada pendidik. Pendidik atau guru yang menjadi
pelaksana kurikulum kurang berpartisipasi dalam pengembangan kurikulum. Hal tersebut dikarenakan beberapa hal yaitu ,
kurang waktu, kekurangan sesuaian pendapat, baik antara sesama guru maupun
dengan kepala sekolah dan administrator. Dan juga dikarenakan kemampuan dan
tingkat pengetahuan guru. Hambatan yang
lain datang dari masyarakat.
BAB
III
PENUTUP
A.
Kesimpulan
Pengembangan kurikulum sebagai
proses menyeluruh yang berkaitan dengan kebijakan nasional di bidang
pendidikan, sesuai dengan visi, misi, dan strategi pembangunan pendidikan
nasional. Ada empat tahap dalam pengembangan kurikulum menurut tingkatannya
antara lain , Pengembangan kurikulum pada tingkat makro (Nasional), tingkat institusi (
sekolah), tingkat mata pelajaran (bidang studi), dan pada tingkat pembelajaran di kelas. proses
pengembangan kurikulum secara umum terdiri dari perencanaan, implementasi, serta
evaluasi. Ada beberapa tahapan pengembangan kurikulum menurut para ahli antara
lain model administratif, Arich lewy,
Rogers, Tyler, Beauchamp, dan Taba.
Model pengembangan dapat dijadikan pedoman untuk menyusun proses
pengembangan kurikulum. Dalam pengembangan kurikulum ada beberapa faktor yang
mempengaruhi antara lain: faktor perguruan tinggi , masyarakat, dan sistem
nilai Selain faktor-faktor di atas ada
pula hambatan-hambatan pengembangan kurikulum, hambatan yang pertama terletak
pada guru. Guru sebagi subyek pelaksana kurikulum kurang berpartisipasi dalam
pengembangan kurikulum. Hal ini dipengaruhi oleh beberapa hal yaitu, kurang waktu. kekurangan sesuaian pendapat,
baik antara sesama guru maupun dengan kepala sekolah dan administrator. Dan faktor
penghambat yang lain datang dari masyarakat.
B.
Saran
Makalah ini
sangat jauh dari kata sempurna. Untuk itu kami sangat mengharapkan kritik dan
saran yang membangun sehingga kedepannya pembuatan makalah ini bisa lebih baik
lagi.
DAFTAR
PUSTAKA
Arifin, Zainal , Konsep dan Model
Pengembangan Kurikulum, Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2013
Hidayat, Sholeh, Pengembangan Kurikulum Baru Bandung:
PT Rosdakarya Offset, 2013
Idi, Abdullah, Pengembangan
Kurikuum: Teori dan Praktik, Yogyakarta: AR- Ruzz Media,2016
Oemar Hamalik, Manajemen
Pengembangan Kurikulum, Bandung: PT
remaja Rosdakarya, 2012
Nurgiyanto, Burhan, Dasar-dasar
Pengembangan Kurikulum, Yogyakarta: BPFEE, 1988
Syaodih ,Nana Sukmadinata, Pengembangan Kurikulum Teori
dan Praktek, Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2012
[1] Oemar Hamalik, Manajemen Pengembangan Kurikulum, (Bandung;
PT remaja Rosdakarya, 2012) hal.22
[2] Zainal Arifin, Konsep dan Model Pengembangan Kurikulum, (Bandung,
PT Remaja Rosdakarya, 2013), hal.41
[3] Sholeh Hidayat, Pengembangan Kurikulum Baru (Bandung; PT
Rosdakarya Offset, 2013) hal.80
[4] Burhan Nurgianto, Dasar-Dasar Pengembangan Kurikulum,
(Yogyakarta: BPFEE, 1988), hal.169
[5] Nana Syaodih Sukmadinata, Pengembangan Kurikulum Teori dan Praktek,
(Bandung; PT Remaja Rosdakarya, 2012) hal.167
[6] Nana Syaodih Sukmadinata, Pengembangan Kurikulum Teori dan
Praktek, hal.163

Tidak ada komentar:
Posting Komentar