Rabu, 14 Juli 2021

Makalah 4

 

MAKALAH

PROSEDUR SUPERVISI PENDIDIKAN

 

 


MATA KULIAH : SUPERVISI PENDIDIKAN

DOSEN PENGAMPU : Dina Puspita D, S.Pd., M.Pd

 

 

DISUSUN OLEH :

KELOMPOK 6

1.   ISTI ROHANA               (T.MPI.1.2019.045)

2.   FADLIL HUDA   (T.MPI.1.2019.058)

 

 

 

SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM (STAI SMQ) BANGKO

PROGRAM STUDI MANAJEMEN PENDIDIKAN ISLAM

TAHUN AJARAN 2021


KATA PENGANTAR

 

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT atas rahmat dan hidayahnya kami diberikan kesehatan untuk dapat menyelesaikan makalah ini. Shalawat beserta salam senantiasa tercurah kepada Nabi Muhammad SAW beserta keluarga sahabatnya. Makalah ini diajukan sebagai salah satu tugas mata kuliah Supervisi Pendidikan pada program Manajemen Pendidikan Islam Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) SMQ BANGKO, dimana judulnya adalah Prosedur Supervisi Pendidikan.

Dalam penyusunan makalah ini, tentunya tidak mungkin terlaksana apabila tanpa semangat, dukungan, serta bimbingan dari pihak-pihak yang sangat kami hormati. Oleh karena itu, pertama saya ingin mengucapkan terima kasih kepada Ibu Dina Puspita D, S.Pd., M.Pd selaku dosen mata kuliah Supervisi Pendidikan  yang telah membimbing kami dalam menyusun makalah ini.

Akhirnya makalah ini dapat terselesaikan pada waktu yang diharapkan, dan kami berharap mudah-mudahan makalah ini dapat bermanfaat, amin.

 

Bangko, 20 Maret 2021

 

Isti rohana

Penulis

 

 

 

DAFTAR ISI

 

KATA PENGANTAR                                  i

DAFTAR ISI.............................................. ii

BAB I : PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang............................... 1

B.    Rumusan Masalah............................... 1

C.    Tujuan Masalah............................... 1

BAB II : PEMBAHASAN

A.    Proses Pengembangan Kurikulum............................... 2

BAB III :  PENUTUP

A.    Kesimpulan............................. 12

B.    Saran............................. 12

DAFTAR PUSTAKA.......................................... 13

 


 


BAB I

PENDAHULUAN

 

A.      Latar Belakang

                   Zaman mengalami perkembangan dan perubahan di berbagai bidang. Perkembangan dan perubahan tersebut dapat mempengaruhi perubahan sistem pendidikan. Pada zaman sekarang, pendidikan menjadi hal penting dalam kehidupan bermasyarakat, karena dengan pendidikan dapat merubah kualitas hidup seseorang. Hal dapat dibuktikan ketika semakin tinggi pendidikan maka wawasan ilmu dan pengalaman yang dimiliki juga bertambah sehingga memudahkan seseorang dalam menyelesaikan masalah dalam kehidupan. Salah satu pondasi pendidikan adalah kurikulum sehingga apabila terjadi perkembangan zaman dari berbagai bidang  dapat mempengaruhi sistem pendidikan, maka terjadi pula perkembangan kurikulum. Problem-problem yang muncul pada masyarakat juga mendorong perubahan sistem pendidikan. Kurikulum hadir untuk menyelesaikan problem dan menjawab tuntutan di masyarakat. Kurikulum disusun untuk memudahkan berjalannya proses pendidikan yang ada.  Dalam kurikulum terdapat proses pengembangan yang secara umum terdiri dari perencanaan, implementasi dan evaluasi. Proses pengembangan ini bertujuan untuk menciptakan kurikulum yang efektif. Terdapat beberapa tokoh yang merumuskan tahapan dalam pengembangan kurikulum. Akan tetapi pada proses pengembangan kurikulum dipengaruhi oleh beberapa faktor yang mendukung,  ada pula hambatan-hambatan dalam pengembangan kurikulum.

B.      Rumusan Masalah

1.       Bagaimana Proses Pengembangan Kurikulum?

C.      Tujuan Masalah

1.       Untuk Mengetahui Tentang Proses Pengembangan Kurikulum

BAB II

PEMBAHASAN

 

A.      Proses Pengembangan Kurikulum

Kurikulum  merupakan salah satu komponen penting dalam pendidikan, kurikulum diartikan sebagai suatu program yang disediakan untuk siswa. Sebagaimana yang dijelaskan oleh Oemar Hamalik dalam buku manajemen pengembangaan kurikulum, kurikulum merupakan suatu program yang disediakan untuk siswa. Program pendidikan dalam bentuk kegiatan belajar, tujuannya untuk meningkatkan perkembangan dan pertumbuhan siswa yang disesuaikan dengan tujuan pendidikan. Pengembangan kurikulum merupakan suatu proses yang menyeluruh sebagai bentuk kebijakan nasional dalam pendidikan yang disesuaikan dengan visi, misi dan strategi yang dimiliki dari pendidikan nasional. Proses pengembangan kurikulum mulai dari perencanaan, pelaksanaan, monitoring dan evaluasi.[1]

Dalam perencaan kurikulum dimulai dengan merumuskan ide yang akan  dikembangkan menjadi program. Ide dalam perencaan kurikulum berasal dari:

1. Visi yang dicanangkan

2. Kebutuhan stakeholders dan kebutuhan untuk studi jenjang berikutnya 

3. Hasil evaluasi kurikulum yang telah digunakan dan tuntutan perkembangan ipteks dan zaman

4. Pandangan berbagai pakar keilmuan

5. perkembangan era globalisasi, di mana seseorang  dituntut untuk memiliki etos belajar sepanjang hayat, memperhatikan bidang sosial, ekonomi. Politik, budaya dan teknologi.

Dari ide di atas kemudian dikembangkan rancangan program dalam bentuk dokumen seperti format silabus. Rancangan tersebut dikembangkan lagi dalam bentuk rencana pembelajaran yang akan dilaksanakan seperti RPP atau SAP. Rencana tersebut berisi tentang langkah pembelajaran untuk siswa. Setelah rencana tersebut diterapkan kemudian dievaluasi sehingga dapat diketahui tingkat efektivitasnya. Dari hasil evaluasi ini akan diperoleh bekal untuk menyempurnakan kurikulum berikutnya.

 Dari penjelasan di atas proses pengembangan kurikulum secara umum terdiri dari perencanaan, implementasi, serta evaluasi. Selain proses kurikulum secara umum diatas, ada empat tahap pengembangan kurikulum dilihat dari tingkatannya antara lain:

 1.      Pengembangan kurikulum pada tingkat nasional. Pengembangan kurikulum pada tingkat ini membahas pendidikan pada tingkat nasional yang terdiri dari pendidikan formal, informal, dan non formal. Dari  tingkatannya  dapat dilihat secara vertikal dan horizontal. Secara vertikal, pengembangan kurikulum dilakukan berdasarkan tingkatan pendidikan dari yang terendah sampai ke tinggi. Sedangkan Secara horizontal, pengembangan kurikulum berdasarkan pendidikan yang sederajat, seperti  contoh  SD, MI, dan program paket A.[2]                                         

2. Pengembangan kurikulum pada tingkat institusi Pengembangan kurikulum tingkat ini memiliki beberapa kegiatan yangb harus dilaksanakan antara lain, merumuskan tujuan yang akan dicapai sekolah, menyusun SKL (standar kompetensi lulusan), dan penetapan isi kurikulum secara keseluruhan. Standar kompetensi lulusan berupa rumusan kompetensi pengetahuan, keterampilan, dan sikap yang harus dicapai oleh siswa setelah mengikuti pembelajaran pada lembaga pendidikan. SKL tersebut dirumuskan sesuai dengan jenis dan tingkatannya.  Standar kompetensi lulusan menunjukkan harapan masyarakat, seperti orangtua, penjabat pemerintah dan swasta tentang dunia pendidikan, dunia usaha, dan lain-lain, serta merupakan harapan bagi pendidikan jenjang tinggi atau dunia kerja.8  3. Pengembangan kurikulum pada tingkat mata pelajaran Silabus merupakan bentuk pengembangan kurikulum pada tingkat mata pelajaran. Silabus yang terdiri dari kompetensi inti, kompetensi dasar, materi pokok, kegiatan pembelajaran, indikator pencapaian, bentuk penilaian dan alokasi waktu disusun pada setiap semester.9 

4.       Pengembangan kurikulum pada tingkat pembelajaran di kelas. Pada tingkat pembelajaran dikelas pengembangan kurikulum dilakukan dalam bentuk susunan RPP ( Rencana Pelaksanaan Pendidikan) yang dirancang oleh masing-masing guru. Perencanaan tersebut juga meliputi sumber belajar yang akan digunakan.10

  Penjelasan di atas merupakan bentuk pengembangan kurikulum pada tiap-tiap tingkatannya. Masing-masing tingkatan memiliki tugas masing-masing dalam proses pengembangan kurikulum, akan tetapi tetap disesuaikan dengan  tujuan pendidikan nasional. Sedangkan menurut Hamalik proses pengembangan kurikulum yang digunakan di Indonesia dimulai dengan melihat kebutuhan yang ada. Dari studi kebutuhan serta kelayakan kemudian menyusun rencana kurikulum, rencana awal

Ø Tahapan  Pengembangan Kurikulum Menurut Para Ahli 

dikembangkan menjadi rencana yang akan diterapkan dalam pelaksanaan kurikulum. Rencana tersebut di uji coba terlebih dahulu di lapangan sebelum kurikulum dilaksanakan secara menyeluruh. Setelah dilaksanakan secara menyeluruh kemudian dilakukan penilaian untuk melihat tingkat keberhasilan kurikulum. Hasil penilaian dapat digunakan untuk perbaikan kurikulum yang telah ada. 11

Ada beberapa para Ahli yang merumuskan tahapan-tahapan pengembangan kurikulum, sebagai berikut:

1.       Model administratif 

                 adalah model tertua yang pernah digunakan. Pengembangan dengan model adminisratif dilakukan oleh administrator pendidikan yang membentuk suatu tim pengarahan pengembangan kurikulum. Model administratif sering pula disebut sebagai model garis. Sehingga pengembangan kurikulum diarahkan dari penjabat pendidikan yang berada di atas. Kemudian membentuk tim pengarahan yang terdiri dari pengawas, kepala sekolah dan pengajar. Tim pengarahan memiliki ugas untuk merencanakan, memberikan pengarahan, merumuskan falsafah dan tujuan umum pendidikan.[3]

Selanjutnya, tim pengarahan membentuk kelompok kerja untuk menyusun tujuan pendidikan, rencana pengajaran, dan kegiatan pembelajaran. Hasil kerja kelompok tersebut direvisi oleh tim pengarah dan dilakukan uji coba. Kegiatan uji coba bertujuan untuk melihat tingkat efektifitas dan kelayakannya. Tim pengarah menelaah dan mengevaluasi uji coba rancangan kurikulum kemudian memutuskan pelaksanaannya. Pengembangan kurikulum model administratif tersebut  dapat  dilaksanakan pada negara yang dengan sistem  karena model ini dari pusat ke bawah . Kekurangan model ini  kurikulum biasanya bersifat seragam secara nasional sehingga tidak disesuaikan dengan kebutuhan tiap-tiap daerah.[4]  

Dalam pelaksanaan kurikulum tersebut, dilakukan kegiatan monitoring, pengamatan, pengawasan, dan bimbingan yang kemudian dilakukan pula evaluasi  yang hasilnya di gunakan untuk  umpan balik  bagi instansi pendidikan tingkat pusat, daerah, dan sekolah. Dalam pelaksanaannya perlu adanya pengawasan. Kekurangan model ini dapat dijadikan pertimbangan dalam memilih model pengembangan kurikulm karena tuntutan masing-masing daerah berbeda-beda.

2.    Menurut Arich Lewy 

                  Menurut Arich Lewy (1977) proses pengembangan kurikulum dilaksanakan melalui beberapa tahapan sebagaimana yang dikutip dalam buku dasar-dasar  pengembangan kurikulum karya Burhan Nurgiyanto terdiri dari penentuan tujuan umum, perencanaan, uji coba dan revisi, uji lapangan, pelaksanaan kurikulum dan pengawasan mutu kurikulum.    Penjelasan dari enam tahap pengembangan menurut Arich Lewy, tahap pertama yang dilakukan dalam proses pengembangan kurikulum adalah merumuskan tujuan kurikulum secara umum. Tujuan kurikulum tersebut meliputi nilai dan kompetensi yang harus dimiliki oleh peserta didik setelah mengikuti pelaksanaan kurikulum. Dalam merumuskan tujuan ini, para pengembang kurikulum bekerja sama dengan para ahli disiplin ilmu termasuk psikolog, sosiolog, antropolog, dan pakar-pakar ilmu lainnya yang relevan. Pakar-pakar ini dianggap mampu memberikan kontribusi pemikirannya untuk merumuskan tujuan umum kurikulum. Berdasarkan tahaapan pertama, selanjutnya pengembang kurikulum menyusun perencanaan kurikulum, mulai dari perencanaan umum (silabus) sampai dengan perencanaan khusus (RPP) dalam berbagai kegiatan (intrakulikuler, ekstrakulikuler maupun kokulikuler) sesuai dengan organisasi kurikulum yang diinginkan.

3.    Model Rogers

Terdapat tahap pengembangan kurikulum dengan model Rogers. tahap pertama yang dilakukan yaitu memilih target yang akan ikut serta dalam kelompok intensif dari sistem pendidikan, selanjutnya guru berpartisipasi dalam pengalaman guru. Pengalaman yang ada dikembangkan pada masingmasing kelas. Dibutuhkan pula partisipasi orang tua dalam kegiatan

          kelompok.17  Akan tetapi dalam tahapan model ini tidak semua orang tua ikut serta dalam menyusun kurikulum. Orang tua memiliki peran lebih besar pada saat pelaksanaan kurikulum. Karena dalam proses belajar tidak hanya berlangsung di sekolah tetapi juga di rumah, sehingga orang tua ikut mendampingi dan mengawasi  kegiatan belajar siswa di rumah. Orang tua juga dapat turut berpartisipasi dalam kegiatan di sekolah melalui berbagai kegiatan seperti diskusi, pertemuan dengan guru dan pelaporan hasil belajar. Dari kegiatan tersebut dapat  menjadi umpan balik untuk menyempurnakan kurikulum.[5] Proses pengembangan kurikulum dengan model rogers lebih memperhatikan subyek yang berpegaruh dalam pelakasanaan kurikulum.

4.     Menurut Tyler

Menurut Tyler, tahapan pengembangan kurikulum terdiri dari empat tahapan mulai dari menentukan tujuan hingga penilaian. Pertama, menentukan tujuan pengembangan kurikulum, tahapan yang harus dilakukan pertama yaitu menentukan tujuan dari pengembangan kurikulum. Sehingga dapat diketahui arah dan sasaran pencapaian pendidikan. Kedua, menentukan pengalaman belajar siswa. Setelah menentukan tujuan kemudian pada tahap selanjutnya dilakukan penentuan pengalaman belajar ( learning experiences). Pengalaman belajar merupakan kegiatan interaksi siswa dengan lingkungan. Pengalaman belajar siswa dapat ditemui dalam proses pembelajaran. Terdapat beberapa prinsip dalam menentukan pengalaman belajar  yaitu pengalaman disesuaikan dengan tujuan yang hendak dicapai, setiap pengalaman  harus memuaskan siswa, siswa terlibat dalam perencanaan pengalaman belajar, dan dalam pengalaman belajar siswa memiliki tujuan yang berbeda-beda.  Ketiga, pengorganisasian pengalaman belajar. Pengorganisasian ini dibagi menjadi 2 jenis yaitu secara vertikal dan horizontal. Untuk pengorganisasian secara vertikal menghubungkan pengalaman belajar suatu kajian ilmu yang sama pada tingkatan yang berbeda. Sedangkan secara horizontal menghubungkan pengalaman belajar beberapa bidang pada tingkat yang sama. Keempat, penilaian tujuan belajar sebagai komponen yang dijadikan perhatian  utama

5.       Beauchamp

 Ada lima tahapan dalam  mengembangkan suatu kurikulum yang pertama menetapkan lingkup wilayah yang akan di cakup oleh kurikulum tersebut (sekolah, kecamatan, kabupaten, propinsi, Negara). Tahapan lingkup wilayah  ini ditentukan oleh pihak yang memiliki wewenang untuk mengambil kebijakan dalam pengembangan kurikulum. Setelah menetapkan lingkup wilayah kemudian menetapkan personalia yaitu pihak  yang ikut dalam proses pengembangan kurikulum. Menurut  Beauchamp pihak tersebut antara lain, para ahli pendidikan ataupun ahli kurikulum yang berada di tingkat pusat, perguruan tinggi dan sekolah.  Selain itu juga para profesional dalam sistem pendidikan serta tokoh-tokoh masyarakat yang berpengaruh dalam pendidikan.[6]   Dalam  model ini  melibatkan para ahli dan tokoh pendidikan yang berpengaruh pada pengembangan kurikulum baik secara langsung maupun tidak. Penetapan ini disesuaikan dengan  tingkat dan luas wilayah. Sebagaimana untuk tingkat provinsi dan nasional  tidak begitu melibatkan guru. Sebaliknya untuk tingkat dibawahnya seperti kabupaten, kecamatan, dan sekolah keterlibatan guru lebih besar dalam pengembangan kurikulum. Organisasi dan prosedur pengembangan kurikulum. Langkah ini berkenaan dengan prosedur yang harus ditempuh dalam merumuskan tujuan umum dan tujuan khusus, memilih isi dan pengalaman belajar serta kegiatan evaluasi, dan dalam menentukan keseluruhan desain kurikulum. Selanjutnya mengimplementasikan kurikulum dan mengevaluasi.

 

1.       Menurut Taba

Proses pengembangan  kurikulum menurut taba dapat dilakukan dengan lima langkah. Dimulai dengan Mengadakan unit-unit eksperimen bersama guru-guru Didalam unit ini diadakan studi yang seksama tetang hubungan antara teori dan praktik. Perencanaan  didasarkan atas teori yang kuat, dan pelaksanaan eksperimen didalam kelas menghasilkan data-data yang untuk menguji landasan teori yang digunakan. Ada 8 langkah dalam kegiatan unit eksperimen menurut Taba yaitu ,Mendiagnosis kebutuhan, merumuskan tujuan-tujuan khusus, memilih isi, mengorganisasi isi, memilih pengalaman belajar, mengorganisasi pengalaman belajar, mengevaluasi, melihat sekuens dan keseimbangan22  Selanjutnya menguji unit eksperimen, kegiatan ini dilaksanakan tidak hanya pada kelas ekperimen tetapi di uji juga pada kelas atau tempat lain sehingga dapat diketahui tingkat validitas dan juga dapat memperoleh data untuk penyempurnaan. Data yang diperoleh dari tahapan pengujian kemudian digunakan untuk perbaikan dan penyempurnaan.  Selain melakukan revisi atau perbaikan juga diadakan konsolidasi, pada kegiatan ini dilakukan penarikan kesimpulan mengenai hal yang bersifat umum, karena unit eksperimen yang telah digunakan belum tentu valid untuk sekolah yang lain.23   Setelah melakukan kegiatan revisi dan konsolidasi, kemudian mengembangkan  keseluruhan kerangka kurikulum. Pada tahapan ini dilaksanakan pengkajian oleh ahli kurikulum, tujuannya untuk mengetahui konsep dan landasan yang digunakan seusia atau tidak. Kemudian  kurikulum baru diterapkan pada daerah yang lebih luas tidak hanya sekolah yang digunakan untuk eksperimen. Sehingga dengan langkah ini dapat diketahui maslah yang dihadapi, baik yang berkaitan dengan pendidik, fasilitas hingga pembiayaan.                     

                     

Ø   Faktor yang Mempengaruhi Proses Pengembangan Kurikulum 

Dalam pengembangan kurikulum ada beberapa faktor yang mempengaruhi antara lain:

1.    Perguruan tinggi  Kurikulum minimal mendapatkan 2 pengaruh dari perguruan tinggi yaitu dari segi pengembangan IPTEK yang dikembangkan perguruan tinggi dan dari segi pengembagan ilmu pendidikan dan keguruan serta penyiapan pendidik yang ada diperguruan tinggi.  Pengetahuan dan teknologi memberikan sumbanga terhadap isi kurikulum dan proses pembelajaran.Pengetahuan dna teknologi banyak memberikan sumbangan bagi isi kurikulum serta proses pembelajaran. Pengetahuan yang berkembang di perguruan tinggi juga mempengaruhi isi materi ajar yang ada di kurikulum. perkembangan teknologi juga mendukung pengembangan kurikulum pada komponen alat dan media pendidikan.

 2.   Masyarakat Sekolah merupakan bagian dari masyarakat dan mempersiapjkan anak untuk kehidupan di masyarakat. Sebagai bagian dari mayarakat, sehingga pendidikan di sekolah dipengaruhi oleh lingkungan sekitar. Isi kurikulum yang ada seyogyanya dapat menjawab tuntutan dan kebutuhan yang ada di lingkungan masyarakat.

3.    Sistem nilai Dalam lingkungan masyarakat terdapat sistem nilai, baik moral, agama, sosial, budaya, dan  nilai politis. Seperti yang dijelaskan diatas sekolah  sebagai bagian dari masyarakat dan salah satu lembaga mayarakat memiliki tanggung jawab untuk memelihara sistem nilai yang telah ada.. Sistem nilai yang akan dipelihara terintegrasikan dalam kurikulum. Masalah yang dihadapi dalam pemeliharaan sistem nilai adalah  masyarakat bersifat heterogen dan multifaset, sehingga masing-masing kelompol etnis, vokasiomal, intelek, sosial, spiritual, dan sebagainya memiliki nilai  yang berbeda.

Selain faktor-faktor diatas ada pula hambatan-hambatan pengemabngan kurikulum, hambatan yang pertama terletak pada pendidik. Pendidik atau guru yang menjadi pelaksana kurikulum kurang berpartisipasi dalam pengembangan kurikulum. Hal  tersebut dikarenakan beberapa hal yaitu , kurang waktu, kekurangan sesuaian pendapat, baik antara sesama guru maupun dengan kepala sekolah dan administrator. Dan juga dikarenakan kemampuan dan tingkat pengetahuan guru.  Hambatan yang lain datang dari masyarakat.

 

 

BAB III

PENUTUP

 

A.    Kesimpulan

                     Pengembangan kurikulum sebagai proses menyeluruh yang berkaitan dengan kebijakan nasional di bidang pendidikan, sesuai dengan visi, misi, dan strategi pembangunan pendidikan nasional. Ada empat tahap dalam pengembangan kurikulum menurut tingkatannya antara lain , Pengembangan kurikulum pada tingkat  makro (Nasional), tingkat institusi ( sekolah), tingkat mata pelajaran (bidang studi), dan  pada tingkat pembelajaran di kelas. proses pengembangan kurikulum secara umum terdiri dari perencanaan, implementasi, serta evaluasi. Ada beberapa tahapan pengembangan kurikulum menurut para ahli antara lain  model administratif, Arich lewy, Rogers, Tyler, Beauchamp, dan Taba.  Model pengembangan dapat dijadikan pedoman untuk menyusun proses pengembangan kurikulum. Dalam pengembangan kurikulum ada beberapa faktor yang mempengaruhi antara lain: faktor perguruan tinggi , masyarakat, dan sistem nilai  Selain faktor-faktor di atas ada pula hambatan-hambatan pengembangan kurikulum, hambatan yang pertama terletak pada guru. Guru sebagi subyek pelaksana kurikulum kurang berpartisipasi dalam pengembangan kurikulum.  Hal  ini dipengaruhi oleh beberapa hal yaitu,  kurang waktu. kekurangan sesuaian pendapat, baik antara sesama guru maupun dengan kepala sekolah dan administrator. Dan faktor penghambat yang lain datang dari masyarakat.

B.      Saran

               Makalah ini sangat jauh dari kata sempurna. Untuk itu kami sangat mengharapkan kritik dan saran yang membangun sehingga kedepannya pembuatan makalah ini bisa lebih baik lagi.

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Arifin, Zainal , Konsep dan Model Pengembangan Kurikulum, Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2013

Hidayat, Sholeh,  Pengembangan Kurikulum Baru Bandung: PT Rosdakarya Offset, 2013

Idi, Abdullah, Pengembangan Kurikuum: Teori dan Praktik, Yogyakarta: AR- Ruzz Media,2016

Oemar Hamalik, Manajemen Pengembangan Kurikulum,  Bandung: PT remaja Rosdakarya, 2012 

Nurgiyanto, Burhan, Dasar-dasar Pengembangan Kurikulum, Yogyakarta: BPFEE, 1988

Syaodih ,Nana  Sukmadinata, Pengembangan Kurikulum Teori dan Praktek, Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2012



[1] Oemar Hamalik, Manajemen Pengembangan Kurikulum, (Bandung; PT remaja Rosdakarya, 2012) hal.22

[2] Zainal Arifin, Konsep dan Model Pengembangan Kurikulum, (Bandung, PT Remaja Rosdakarya, 2013), hal.41

[3] Sholeh Hidayat, Pengembangan Kurikulum Baru (Bandung; PT Rosdakarya Offset, 2013) hal.80

[4] Burhan Nurgianto, Dasar-Dasar Pengembangan Kurikulum, (Yogyakarta: BPFEE, 1988), hal.169

[5] Nana Syaodih Sukmadinata, Pengembangan Kurikulum Teori dan Praktek, (Bandung; PT Remaja Rosdakarya, 2012) hal.167

[6] Nana Syaodih Sukmadinata, Pengembangan Kurikulum Teori dan Praktek, hal.163

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Makalah 10

  MAKALAH   ETIKA KEPEMIMPINAN DALAM PERSPEKTIF ISLAM   MATA KULIAH : MANAJEMEN DALAM PERSPEKTIF ISLAM DOSEN PENGAMPU : SUKAND...