PSIKOLOGI PENDIDIKAN
“ Pentingnya Pengelolaan Kelas Disain Lingkungan Kelas
Yang Positif Untuk Pembelajaran, Baik Secara Fisik Maupun Psikis-Sosial,
Beberapa Pendekatan Antara Guru dan Siswa, Mengahadapi Siswa Yang Bermasalah”
Dosen Pengampu : Tuti Hardianti,
S.Pd.I.,M.Pd
Disusun
Oleh : Kelompok XIII
1.
Tiara
Anggela T.MPI.1.2019.056
2.
Yuli
Yanti T.MPI.1.2029.010
Program
Studi Manajemen Pendidikan Islam
Sekolah
Tinggi Agama Islam
Syekh
Maulana Qori
2021
KATA PENGANTAR
Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT atas rahmat dan
hidayahnya kami diberikan kesehatan untuk dapat menyelesaikan makalah ini.,
tidak lupa shalawat beserta salam senantiasa kita curah kepada Nabi besar
Muhammad SAW beserta kelurga dan sahabat-sahabatnya. Makalah ini diajukan
sebagai salah satu tugas mata kuliah manajemen perpustakaan pada program
Manajemen Pendidikan Islam Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) SMQ BANGKO.
Dalam penyusunan makalah ini, tentunya tidak mungkin dapat
terlaksana dengan baik apabila tanpa semangat, dukungan, serta bimbingan dari
pihak-pihak yang sangat kami hormati. Oleh karena itu, pertama saya ingin
mengucapkan terimakasih kepada Ibu Tuti Hardianti, S.Pd.I.,M.Pd selaku dosen
pengampu psikologi pendidikan yang telah membimbing kami dalam menyusun makalah
ini. Kedua, kami ingin berterima kasih
kepada kedua orang tua kami atas do’a serta dukungan moril maupun
materil yang telah diberikannya.
Akhirnya makalah ini dapat kami selesaikan sesuai dengan waktu yang
di harapkan dan mudah-mudahan makalah ini dapat bermanfaat, aamiin.
Bangko, 2021
Penulis
DAFTAR ISI
Cover
Kata Pengantar.............
i
Daftar Isi.......................
ii
Bab I Pendahuluan
A.
Latar Belakang.............................. 1...........................
B.
Rumusan Masalah............ 1
Bab II Pembahasan
A.
Pentingnya
Pengelolaan Kelas Disain Lingkungan Kelas Yang Positif Untuk Pembelajaran, Baik
Secara Fisik Maupun Psikis-Sosial................ 2
B.
Beberapa
Pendekatan Antara Guru dan Siswa. .............. 4
C.
Mengahadapi
Siswa Yang Bermasalah.......
7
Bab III Penutup
A.
Kesimpulan....... 9
Daftar Pustaka
BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Ruang kelas merupakan salah satu
tempat dimana seorang guru memberikan pelajaran kepada peserta didiknya. Dalam
proses pengajaran, kondisi yang nyaman dan menyenangkan akan sangat membantu
tersampainya materi yang diajarkan guru kepada peserta. Kondisi yang seperti
itu harus direncanakan dan diusahakan oleh guru secara sengaja, agar dapat
dihindarkan dari kondisi yang merugikan atau merusak kenyamanan belajar. Oleh
karena itu, dapat dikatakan bahwa keberhasilan mengajar seorang guru tidak
hanya ditentukan oleh hal-hal yang berhubungan langsung dengan pelaksanaan
kegiatan belajar mengajar, seperti perumusan tujuan secara jelas dan tepat,
pemilihan materi yang sesuai, pemilihan metode yang tepat, serta lengkapnya
sumber-sumber belajar dan sebagainya.Hal lain yang ikut menentukan keberhasilan
guru adalah kemampuan guru dalam mencegah timbulnya tingkah laku peserta didik
yang menggaunggu jalannya kegiatan belajar mengajar serta kondisi fisik tempat
belajar mengajar dan kemampuan guru dalam mengelolanya.
B.
Rumusan Masalah
1.
Bagaimana Pentingnya Pengelolaan
Kelas Disain Lingkungan Kelas Yang Positif Untuk Pembelajaran, Baik Secara
Fisik Maupun Psikis-Sosial?
2.
Apa saja Beberapa Pendekatan Antara
Guru dan Siswa?
3.
Bagaimana Mengahadapi Siswa Yang
Bermasalah?
BAB II
PEMBAHASAN
A.
Pentingnya
Pengelolaan Kelas Disain Lingkungan Kelas Yang Positif Untuk Pembelajaran, Baik
Secara Fisik Maupun Psikis-Sosial
Pengelolaan kelas terdiri dari dua
kata yaitu : pengelolaan dan kelas Pengelolaan merupakan terjemahan dari
kata “management” yang kemudian di Indonesia-kan menjadi manajemen atau
menejemen. Dalam kamus bahasa indonesia disebutkan bahwa pengelolaan berarti
penyelenggaraan. Mengelola kelas adalah suatu keterampilan yang memungkinkan
guru mengajar dan siswa belajar. Tanpa pengelolaan dan pengaturan yang efektif,
maka proses belajar terganggu, dan guru kembali menertibkan dan kadang-kadang
mencerca siswa yang mengganggu selama pengajaran. Guru membutuhkan keterampilan
yang sama seperti ahli teknik atau direktur sebuah stasiun televisi.
Pengaturan ruang kelas hendaknya
memudahkan guru bergerak secara leluasa untuk membantu dan memantau tingkah
laku siswa dalam belajar.
Lingkungan fisik tempat belajar yang
menguntungkan dan memenuhi syarat minimal, mendukung meningkatnya intensitas
proses pembelajaran dan mempunyai pengaruh positif terhadap pencapaian tujuan
pengajaran. Tujuan utama penataan lingkungan fisik kelas ialah mengarahkan
kegiatan siswa dan mencegah munculnya tingkah laku siswa yang tidak diharapkan
melalui penataan tempat duduk, perabot, pajangan, dan barang-barang lainnya di
dalam kelas. Penataan lingkungan fisik yang dimaksud meliputi :
a.
Penataan ruangan tempat
berlangsungnya proses belajar mengajar/kelas.
Ruangan tempat
belajar harus memungkinkan semua siswa bergerak leluasa. Tidak berdedak-desakan
dan tidak saling mengganggu antara siswa yang satu dengan yang lainnya pada
saat melakukan aktivitas belajar.
b.
Penataan tempat duduk.
Ada beberapa
model penataan tempat duduk yang biasa digunakan di dalam kelas, diantaranya
seperti:
1.
Pola tapal kuda.
2.
Pola pengaturan tempat duduk yang
berkelompok
3.
Pola berderet atau berbaris
berjajar.
4.
Pola U
5.
Pola lingkaran atau persegi.
6.
Meja Konferensi
7.
Group on group
8.
Break-out grouping.
9.
Setting break-out hendaklah
Memilih desain
penataan tempat duduk juga perlu memperhatikan jumlah siswa dalam satu kelas
yang akan disesuaikan pula dengan metode yang akan digunakan. Hal yang tidak boleh
kita lupakan bahwa dalam penataan tempat duduk siswa adalah guru tidak hanya
menyesuaikan dengan metode pembelajaran yang digunakan saja, Tetapi seorang
guru perlu mempertimbangkan karakteristik individu siswa, baik dilihat dari
aspek kecerdasan, psikologis, dan biologis siswa itu sendiri. Hal ini penting
karena guru perlu menyusun atau menata tempat duduk yang dapat memberikan
suasana yang nyaman bagi para siswa.
Lingkungan
fisik kelas harus mengandung unsur kesehatan.
Ventilasi, suhu
dan cahaya yang memadai sangat diperlukan. Bila sinar matahari masuk
terlalu tajam pada papan tulis atau wajah siswa, atau bila ada tetesan air pada
musim hujan, guru harus berusaha sedapat mungkin supaya semuanya itu tidak
mengganggu. Guru harus menyadari adanya hubungan yang erat antara lingkungan
fisik kelas, iklim emosional kelas dan moral seluruh siswa
Lingkungan
belajar dalam sebuah ruangan kelas dirancang dengan tujuan untuk menciptakan
ruangan yang nyaman dan menyenangkan sehingga pembelajaran aktif dapat dicapai.
B.
Pendekatan
Antara Guru dan Siswa
Beberapa pendekatan guru dan siswa didalam
pembelajaran
1.
Pendekatan kompetensi
Kompetensi menunjukkan kepada
kemampuan melaksanakan sesuatu yang diperoleh melalui pembelajaran dan latihan.
Dalam hubungannya dengan proses pembelajaran, kompetensi menunjukkan kepada
perbuatan yang bersifat rasional dan memenuhi spesifikasi tertentu dalam proses
belajar. Dengan demikian dapat disimpulkan kompetensi merupakan indikator yang
menunjukkan kepada perbuatan yang bisa diamati, dan sebagai konsep yang
mencakup aspek-aspek pengetahuan, keterampilan, nilai, dan sikap, serta
tahap-tahap pelaksanaanya secara utuh. Paling tidak terdapat empat teoritis
yang mendasari pendidikan berdasarkan pendekatan kompetensi.
Berdasarkan uraian di atas
pembelajaran dengan pendekatan kompetensi dapat dilakukan dengan
langkah-langkah sebagai berikut:
1) Tahap perencanaan
2) Pelaksanaan pembelajaran
3) Evaluasi dan penyempurnaan
2.
Pendekatan keterampilan proses
Pendekatan keterampilan proses merupakan pendekatan pembelajaran
yang menekankan pada proses belajar, aktivitas, kreativitas siswa dalam
memperoleh pengetahuan, keterampilan, nilai, dan sikap, serta menerapkannya
dalam kehidupan sehari-hari. Dalam pengertian tersebut termasuk di antaranya keterlibatan
fisik, mental, dan sosial siswa dalam proses pembelajaran untuk mencapai
suatu tujuan.
3.
Pendekatan lingkungan
Pendekatan lingkungan merupakan
suatu pendekatan pembelajaran yang berusaha untuk meningkatkan keterlibatan
siswa melalui pendayagunaan lingkungan sebagai sumber belajar. Pendekatan ini
berasumsi bahwa kegiatan pembelajaran akan menarik perhatian jika apa yang
dipelajari diangkat dari lingkungan, sehingga apa yang dipelajari berhubungan
dengan kehidupan dan berfaedah bagi lingkungan. Belajar dengan pendekatan
lingkungan berarti siswa mendapatkan pengetahuan dan pemahaman dengan cara
mengamati sendiri apa-apa yang ada di lingkungan sekitar, baik di lingkungan
rumah maupun di lingkungan sekolah. Dalam hal ini siswa dapat menanyakan sesuatu
yang ingin diketahui kepada orang lain di lingkungan mereka yang dianggap tahu
tentang masalah yang dihadapi.
4.
Pendekatan kontekstual
Pendekatan kontekstual merupakan
konsep pembelajaran yang menekankan pada keterkaitan antara materi pembelajaran
dengan dunia kehidupan siswa secara nyata, sehingga para siswa mampu
menghubungkan dan menerapkan kompetensi hasil belajar dalam kehidupan
sehari-hari.
Dalam pembelajaran kontekstual ini
tugas guru adalah memberikan kemudahan belajar pada siswa, dengan menyediakan
berbagai sumber belajar yang memadai. Guru bukan hanya menyampaikan materi
pembelajaran yang berupa hafalan, tetapi mengatur lingkungan dan strategi
pembelajaran yang memungkinkan siswa belajar. Lingkungan belajar yang kondusif
sangat penting dan sangat menunjang pembelajaran kontekstual, dan keberhasilan
pembelajaran secara keseluruhan. Pembelajaran kontekstual ini juga mendorong siswa memahami
hakekat, makna, dan manfaat belajar, sehingga memungkinkan mereka untuk rajin,
dan termotivasi untuk senantiasa belajar bahkan kecanduan belajar.
5.
Pendekatan tematik
Pendekatan tematik merupakan
pendekatan pembelajaran untuk mengadakan hubungan yang erat dan serasi antara
berbagai aspek yang mempengaruhi siswa dalam proses belajar. Oleh karena itu
pendekatan tematik sering juga disebut pendekatan terpadu. Pendekatan
tematik atau pendekatan terpadu merupakan suatu pendekatan pembelajaran yang
menyatupadukan serangakaian pengalaman belajar, sehingga terjadi saling berhubungan
satu dengan yang lainnya.
6.
Pendekatan individu
Pendekatan indvidual ini mempunyai arti yang sangat penting bagi
kepentingan pengajaran. Pengelolaan kelas sangat memerlukan pendekatan
individual ini. Dalam pemilihan metode juga seorang guru tidak bisa sembarangan
dalam pendekatan individu, sehingga seorang guru dalam proses kegiatan
pembelajaran harus memperhatikan individual yang dihadapinya.
7.
Pendekatan kelompok
Ketika guru
ingin menggunakan pendekatan kelompok, maka guru harus mempertimbangkan bahwa
hal itu tidak bertentangan dengan tujuan, fasilitas, metode dan bahan yang
diberikan. Dalam pengelolaan kelas terutama berhubungan dengan penempatan
siswa pendekatan kelompok sangat diperlukan. Perbedaan individual siswa
dijadikan sebagai pijakan dalam melakukan pendekatan kelompok.
8.
Pendekatan bervariasi
Pendekatan bervariasi ini bertolak
dari konsepsi bahwa permasalahan yang dihadapi oleh setiap siswa dalam belajar
bermacam-macam. Kasus yang biasanya muncul dalam pengajaran dengan berbagai
motif, sehingga diperlukan variasi teknik pemecahan untuk setiap kasus.
9.
Pendekatan edukatif
Apapun yang dilakukan guru dalam pendidikan dan pengajaran dengan
tujuan mendidik, bukan karena motif-motif lain. Dalam pendekatan edukatif ini
tujuannya adalah untuk membina watak siswa dengan pendidikan yang bersifat
positif.
C.
Menghadapi
Siswa Yang Bermasalah
Dalam pendekatan bimbingan
perkembangan, guru dimungkinkan untuk memberikan layanan bimbingan terpadu
dalam KBM. Melalui dasar bimbingan, guru membantu seluruh murid. Namun
sekalipun telah memberikan bantuan terhadap seluruh murid, ada saja murid yang
berperilaku bermasalah. Guru perlu memahami perilaku bermasalah ini sebab
“murid yang bermasalah” biasanya tampak di dalam kelas dan bahkan dia
menampakkan perilaku bermasalah itu di dalam keseluruhan interaksi dengan
lingkungannya. Memahami perilaku bermasalah mengandung arti bahwa guru harus
lebih sensitif terhadap interaksi antara berbagai kekuatan dan faktor di
lingkungan peserta didik dengan penampilan perilaku peserta didik di sekolah.
Walaupun perilaku bermasalah hanya
tampak pada sebagian peserta didik, namun perhatian guru harus tertuju kepada
semua peserta ddik. Seringkali guru memberikan perlakuan secara langsung dan
drastis yang tidak jarang dinyatakan dalam bentuk hukuman fisik. Cara atau
pendekatan seperti ini seringkali tidak membawa hasil yang diharapkan karena
perlakuan tersebut tidak didasarkan kepada pemahaman apa yang ada di balik
perilaku bermasalah tersebut dalam kehidupan anak di sekolah tidak semua dapat
melihat dan merasakan bahwa di antara anak ada yang telah sedang menghadapi
masalah dan ada yang masih gejala, bahkan bagi anak sendiri juga
banak yang tidak tahu bahwa dirinya sedang bermasalah. Oleh karena
itu kita perlu mengetahui apa yang dimaksud dengan pengertian berperilaku
bermasaalah “prilaku bermasalah adalah tingkah laku siswa yang menyimpang dan
kebiasan-kebiasaan temannya.
Lebih lanjut dikatakan apabila anak
tiba-tiba tidak dapat melakukan apa-apa juga merupakan indikasi bahwa anak
mengalami masalah yang segera harus ditangani gurunya.
BAB III
PENUTUP
A.
Kesimpulan
Mengelola kelas adalah suatu
keterampilan yang memungkinkan guru mengajar dan siswa belajar. Tanpa
pengelolaan dan pengaturan yang efektif, maka proses belajar terganggu, dan
guru kembali menertibkan dan kadang-kadang mencerca siswa yang mengganggu
selama pengajaran.
Pendekatan antara guru dan siswa salah
satunya didalam pembelajaran adalah Pendekatan keterampilan proses Pendekatan
kompetensi dan pendeketan lingkungan
Dalam pendekatan bimbingan
perkembangan, guru dimungkinkan untuk memberikan layanan bimbingan terpadu
dalam KBM. Melalui dasar bimbingan, guru membantu seluruh murid.
DAFTAR PUSTAKA
E. Mulyasa. Menjadi Guru Profesional Menciptakan
Pembelajaran Kreatif dan Menyenangkan, Bandung:
Remaja Rosdakarya, 2008

Tidak ada komentar:
Posting Komentar