Rabu, 14 Juli 2021

Makalah 10

 

MAKALAH

 

ETIKA KEPEMIMPINAN DALAM PERSPEKTIF ISLAM

 

MATA KULIAH : MANAJEMEN DALAM PERSPEKTIF ISLAM



DOSEN PENGAMPU : SUKANDAR HADI, S.Pd.I., M.Pd.I

 

 

 

DISUSUN OLEH :

KELOMPOK 8

 

1.   ERA FAZIRA               (T.MPI.1.2019.030)

 

 

 

SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM

SYEKH MAULANA QORI (SMQ) BANGKO

PRODI MANAJEMEN PENDIDIKAN ISLAM

TAHUN PELAJARAN 2021

 

 


 



KATA PENGANTAR

 

Bismillahhirrahmanirrahim

 

Pertama dan yang paling utama, kami memanjatkan puja dan puji syukur atas kehadirat Allah SWT, karena telah melimpahkan segala rahmat dan hidayahnya sehingga kami dapat menyelesaikan makalah ini dengan tepat waktu.

Shalawat dan salam semoga tetap tercurahkan kepada Nabi tercinta Muhammad SAW. Di mana atas inayah-Nya dan berkah Nabi-Nya telah membawa kita dari zaman kejahilan menuju zaman yang penuh dengan ilmu pengetahuan.

Rasa terima kasih yang sangat besar kami sampaikan kepada Dosen Pengampu yang telah membimbing dan memberikan masukan yang bermanfaat dalam proses penyusunan makalah ini. Meskipun masih ada segala kekurangan semoga materi dalam makalah ini dapat  bermanfaat untuk kita semua. Aamiiin.

 

 

Bangko, 20 MARET 2021

 

 

                                                                                                             Penulis


 

DAFTAR ISI

 

KATA PENGANTAR. i

DAFTAR ISI ii

BAB I PENDAHULUAN.. 1

A. Latar Belakang. 1

B. Rumusan Masalah. 2

C. Tujuan Masalah. 2

BAB II PEMBAHASAN.. 3

A. Pengertian Etika Manajemen. 3

B. Macam-Macam Etika Dalam Kepemimpinan. 5

C. Prinsip-prinsip Kepemimpinan Dalam Islam.. 7

BAB III KESIMPULAN.. 11

A. Kesimpulan. 11

B. Saran. 11

DAFTAR PUSTAKA. 13

 


 


BAB I

PENDAHULUAN

 

A.     Latar Belakang

Istilah etika secara umum merujuk pada baik buruknya perilaku manusia. Etika merupakan dasar baik dan buruk yang menjadi referensi pengambilan keputusan individu sebelum melakukan serangkaian kegiatan. Etika bukan hanya larangan-larangaan normative, tetapi lebih merupakan puncak akumulasi kemampuan operasionalisasi intelegensi manusia. Karena melibatkan kemampuan operasionalisasi intelegensi manusia, etika juga disebut dengan sistem filsafat, atau filsafat yang mempertanyakan praksis manusia berkaitan dengaan tanggung jawab dan kewajibannya.

Istilah manajemen sebenarnya mengacu kepada proses pelaksanaan aktivitas yang diselesaikan secara efisien dengan melalui pendayagunaan orang lain. George . Terry (2013) memberikan defenisi: “management is a distinct process consisting of planning, organizing, actuanting and contrling, perfomed to determine and accomplish stated objectives by the use of human beings and other resources”. Maksudnya manajemen sebagai suatu proses yang jelas terdiri dari tindakan-tindakan perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan dan pengendalian yang dilaksanakan untuk menentukan serta melaksanakan sasaran/tujuan yang telah ditentukan dengan menggunakan sumber daya dan sumber-sumber lainnya.

Pemimpin juga tidak boleh berkhianat,dengan mengekploitasi sumber-sumber daya hanya untuk kepentingan pribadi, keluarga maupun kelompoknya. Ada dua macam-macam etika kepemimpinan yaitu, etika deskriptif dan etika normatif.

Prinsip-prinsip dalam kepemimpinan islam ada diantaranya: prinsip tauhid, prinsip musyawarah, prinsip keadilan, dan persatuan islamiyyah.

 

 

B.     Rumusan Masalah

a.      Pengertian etika manajemen

b.      Macam-macam etika manajemendaalam kepemimpinan

c.      Prinsip-prinsip kepemimpinan dalaam islam

 

 

C.     Tujuan Masalah

a.      Untuk mengetahui pengertian etika manajemen

b.      Untuk mengetahui macam-macam etika manajemen dalam kepemimpinan

c.      Untuk mengetahui rinsip-prinsip kepemimpinan dalam islam

 

 


 

BAB II

PEMBAHASAN

 

A.     Pengertian Etika Manajemen

Istilah etika secara umum merujuk pada baik buruknya perilaku manusia. Etika merupakan dasar baik dan buruk yang menjadi referensi pengambilan keputusan individu sebelum melakukan serangkaian kegiatan. Etika bukan hanya larangan-larangaan normative, tetapi lebih merupakan puncak akumulasi kemampuan operasionalisasi intelegensi manusia. Karena melibatkan kemampuan operasionalisasi intelegensi manusia, etika juga disebut dengan sistem filsafat, atau filsafat yang mempertanyakan praksis manusia berkaitan dengaan tanggung jawab dan kewajibannya.[1]

Sering kali, istilah “etika” dan “moral” dipergunakan secara bergantian untuk maksud yang samaa, mempunyai arti yang sama. Etika berasal dari bahasa latin ‘etos’ yang berarti  ‘kebiasaan’. Sinonimnya adalah ’moral’, juga berasal dari bahasa yang sama ‘mores’ yang berarti ‘kebiasaan’. Sedangkan bahasa arabnya ‘akhlak’ bentuk jamak yang mufrodnya ‘khuluq’ artinya ‘budi pekerti’. Keduanya bias diartikan kebiasaan atau adat istiadat (costum atau mores), yang merujuk kepada perilaku manusia itu sendiri, tindakan atau sikap yang dianggap benar atau baik.[2]

Berdasarkan dari beberapa pengertian dia atas dapat disimpulkan bahwa etika merupakan suatu kebiasaan perilaku maanusia dalam melekukan kegiatan yang dapat memunculkan sifat baik atau buruk, dan saling berhubungan antara yang satu dengan yang lain.[3]

Istilah manajemen sebenarnya mengacu kepada proses pelaksanaaan aktivitas yang diselesaikan secaraa efisien dengan melalui pendayagunaan orang lain. George . Terry (2013) memberikan defenisi: “management is a distinct process consisting of planning, organizing, actuanting and contrling, perfomed to determine and accomplish stated objectives by the use of human beings and other resources”. Maksudnya manajemen sebagai suatu proses yang jelas terdiri dari tindakan-tindakan perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan dan pengendalian yang dilaksanakan untuk menentukan serta melaksanakan sasaran/tujuan yang telah ditentukan dengan menggunakan sumber dayaa dan sumber-sumber lainnya. Dari Terry defenisi itulah bisa melihat fungsi manajemen menurutnya. Berikut ini adalah fungsi manajemen menurut Terry :

1.      Perencanaan (planning) yaitu sebagai dasar pemikiran dari tujuan. Merencanakan berarti mempersiapkan segala kebutuhan, memperhitungkan matang-matang apa saja yang menjadi kendala, dan merumuskan bentuk pelaksanaan kegiatan yang bermaksud untuk mencapai tujuan.

2.      Pengorganisasian (organization) yaitu sebagai cara untukmengeumpulkan orang-orang dan menempatkan mereka menurut kemampuan dan keahliannyaa daalaam pekerjaan yang sudah direncanakan.

3.      Penggerakan (actuanting) yaitu untuk menggerakkan organisasi agar berjalan dengan pembagian kerja masing-masing serta meggerakkan seluruh sumber daya yang ada dalam organisasi agar pekerjaan atau kegiatan yang dilakukan bisa berjalan sesuai rencana dan bisa mencapai tujuan.

4.      Pengawasan (controlling) yaitu untuk mengawasi apakah gerakan dari organisasi ini sesuai dengan rencana atau belum. Serta mengawasi penggunaan sumber daya dalam organisasi agar bias terpakai secara efektif dan efisien tanpa ada yang melenceng dari rencana.

Beberapa pengertian manajemen diatas pada dasarnya memiliki titik tolak yang sama, sehingga dapat disimpulkan kedala beberapa hal, yaitu: (1) Manajemen merupakan suatu usaha atau tindakan kearah pencapaian tujuan melalui suatu proses; (2) Manajemen merupakan suatu sistem kerja sama dengan pembagian peran yang jelas; dan (3) Manajemen melibatkan secara optimal kontribusi orang-orang, dana, fisik, dan sumber-sumber lainnya secara efektif dan efisien.

Jadi etika manajemen memiliki arti pemikiran atau refleksi tentang moralitas dalam manajemen. Moralitas disini berarti aspek baik atau buruk, terpuji atau tercela, benar atau salah dari perilaku maanusia. Kesimpulannya etika manajemen merupakan suatu proses dan upaya untuk mengetahuai hal-hal yang benar dan yang salah yang berkenaan dengan praktek manajemen yang menjadi acuan seseorang atau sekelompok orang dalam brtindak daan brtingkah laku yang berlaku dalam sekelompok orang atau organisasi tertentu.[4]

 

B.   Macam-Macam Etika Dalam Kepemimpinan

Pemimpin tidak boleh membiarkan yang kuat memonopoli aset-aset negara dan yang lemah tertindas. Pemimpin juga tidak boleh berkhianat,dengan mengekploitasi sumber-sumber daya hanya untuk kepentingan pribadi, keluarga maupun kelompoknya. Dua tugas ini tidak ringan. Orang yang faham tidak akan sanggup memikulnya, kecuali bagi orang-orang yang memiliki rasa tanggung jawab besar untuk menyelamatkan bangasa ini dari kerugian yang amat besar, yaitu kerugian dunia dan kerugian akhirat.[5]

Adapun macam-macam etika dalam kepemimpinan yaitu :

1.  Etika Deskriptif

Etika yang menelaah secara kritis dan rasional tentang sikap dan perilaku manusia, serta apa yang dikejar oleh setiap orang dalam hidupnya sebagai suatu yang bernilai. Artinya Etika deskriptif tersebut berbicara mengenai fakta secara apa adanya, yakni mengenai perilaku manusia sebagai fakta yang terkait dengan situasi dan realitas yang membudaya. Dapat disimpulkan bahwa tentang kenyataan dalam penghayatan nilai atau tanpa nilai dalam suatu masyarakat yang terkait dengan kondisi tertentu memungkinkan manusia dapat bertindak secara etis.

2.  Etika Normatif

Etika normatif adalah etika yang menetapkan berbagai sikap dan perilaku yang ideal dan seharusnya dimiliki oleh manusia atau apa yang seharusnya dijalankan oleh manusia dan tindakan apa yang bernilai dalam hidup ini. Jadi Etika Normatif merupakan norma-norma yang dapat menuntun agar manusia bertindak secara baik dan menghindarkan hal-hal yang buruk, sesuai dengan kaidah atau norma yang disepakati dan berlaku di masyarakat.[6]

 

C.     Prinsip-prinsip Kepemimpinan Dalam Islam

Kepemimpinan Islam harus dilandasi ajaran Alquran dan sunah, yang acuan utamanya dan meneladani Rasulullah saw. Dan Khulafaurrasyidin. Kepemimpinan yang di bangun oleh Rasulullah saw. Berlandaskan pada dasar-dasar yang kokoh yang pada prinsipnya untuk menegakkan kalimaah Allah Swt. Prinsip-prinsip atau dasar-dasar kepemimpinan Islam adalah sebagai berikut:

1.  Prinsip Tauhid

Prinsip tauhid merupakan salah satu prinsip dasar dalam kepemimpinan islam . Sebab perbedaan akidah yang fundamental dapat menjadi pemicu dan pemacu kekacauan suatu umat. Oleh sebab itu, Islam mengajak kearah satu kesatuan akidah di atas dasar yang dapat di terima oleh semua lapisan masyarakat, yaitu tauhid. Dalam Alquran ditemukan beberapa ayat tentang prinsip ketauhidan ini salah satu di antaranya:

Firman Allah dalam surah An-Nisa’/4:48 yang berbunyi:

اِنَّ اللّٰهَ لَا يَغْفِرُ اَنْ يُّشْرَكَ بِهٖ وَيَغْفِرُ مَا دُوْنَ ذٰلِكَ لِمَنْ يَّشَاۤءُ ۚ وَمَنْ يُّشْرِكْ بِاللّٰهِ فَقَدِ افْتَرٰٓى اِثْمًا عَظِيْمًا {48}

Artinya :  Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) Itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barang siapa yang mempersekutukan Allah, maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar.

2.  Prinsip amausyawarah (Syuro)

Muasyawarah berarti mempunyai makna mengeluarkan atau mengajukan pendapat. Dalam menetapkan keputusan yang berkaitan dengan kehidupan berorganisasi dan bermasyarakat musyawarah dalam konteks membicarakaan persoalaan-persoalan tertentu dengan anggota masyarakat, termasuk didalamnyaa dalaam hal berorganisasi. Hal ini sebagaimana terdapat dalam surah Ali-Imran/3: 159:

وَشَاوِرْهُمْ فِى الْاَمْرِۚ فَاِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللّٰهِ ۗ اِنَّ اللّٰهَ يُحِبُّ الْمُتَوَكِّلِيْنَ {159}

Artinya : “bermusyawarahlah kamu (Muhammad) dengan mereka dalam urusan tertentu. Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, berwataklah kepada Allah Swt. Sesungguhnyaa Allah Swt mencintai orang-orang yang bertawakal kepada-Nya”.

Meskipun terdapaat beberapa Alquran dan sunnah yang menerangkan tentang musyawarah. Hal ini bukan berarti Alquran telah menggambarkaan sistem kepemimpinan secaara tegas dan rinci, nampaknya hal ini memang disengaja oleh Allah untuk memberikan kebebasan sekaligus medan kreatifitas berfikir hamanya untuk berijtihad menemukan sistem kepemimpinannya yang sesuai denan konisi soal-kultural. Sangat mungkin ini salah satu sikap demokratis Tuhan terhadap hamba-hambanya.

3.  Prinsip Keadilan (Al-‘adalah)

Keadilan menjadi salah satu keniscayaan dalam memanage kepemimpinan, sebab kepemimpinan dibentuk antara lain agar tercipta masyarakat yang adil dan makmur. Jadi, sistem kepemimpinan Islam yang ideal adaalaah sistem yang mencerminkan keadialan yang meliputi persamaan hak didepan umum, keseimbangan (keproposionalan) dalam memanage stakeholder yang dipimpinnya.

Allah Swt. Berfirman dalam surat An-Nahl/16 :90 yang berbunyi :

اِنَّ اللّٰهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْاِحْسَانِ وَاِيْتَاۤئِ ذِى الْقُرْبٰى وَيَنْهٰى عَنِ الْفَحْشَاۤءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ {90}

Artinya : Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi kepada kaum kerabat, dan Allah melarang dari perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepadamu agar kami dapat mengambil pelajaran.

4.  Dasar Persatuan Islamiyyah (Ukhuwah Islamiyah)

Prinsip ini untuk menggalang dan meengukuhkan semangat persatuan daari kesatuan umat Islam. Hal ini di dasarkan pada ajaran Islam dalam Alquran Ali-Imran/3 ayat 103 yang berbunyi :

وَاعْتَصِمُوْا بِحَبْلِ اللّٰهِ جَمِيْعًا وَّلَا تَفَرَّقُوْا ۖ

Artinya : Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai.

Adapun prinsip-prinsip lain yang perlu dipegang dan dilakukan oleh seorang pemimpin, di antaranya adalah :

1.      Kepemimpinan bukan sekedar keudukan khusus yang diduduki seseorang dalam suatu organisasi. Kepemimpin adalah kemampuan, pengaruh, seni, dan proses pengaaruh-mempengaruhi antaara pemimpin dan pengikut.

2.      Perilaku daan tindakan pemimpin harus bias dicontoh oleh bawahan.

3.      Kepemimpinan adalah proses. Sebagai ilmu, kepemimpinan berarti dapat dipelajaari sebab ia memiliki beberapa prinsip yang jika di publikasikan dapat meningkatkaan efektivitas kepemimpinan.

4.      Pemimpin bukan seorang yang berada di puncak haerarki suatu orgaanisasi yang terpisahakan dengan pengikutnya.

5.      Untuk mendapatkaan kepeegikutan, seorang pemimpin harus melalui proses mempengaruhi yang dilakukan melalui berbagai cara dengan melihat situasi bawahan.

6.      Pemimpin perlu memberdayakan bawhan agar dapat mengidentifikasi tugas-tugas yang akaan dilakukan dan tidak melakukan kesalahan.[7]  


 

BAB III

KESIMPULAN

 

A.     Kesimpulan

1.      Etika manajemen adalah suatu proses dan upaya untuk mengetahuai hal-hal yang benar dan yang salah yang berkenaan dengan praktek manajemen yang menjadi acuan seseorang atau sekelompok orang dalam brtindak dan brtingkah laku yang berlaku dalam sekelompok orang atau organisasi tertentu.

2.      Macam-macam etika dalam kepemimpinan yaitu ada di antaranya:

a.      Etika Deskriptif

    Etika yang menelaah secara kritis dan rasional tentang sikap dan perilaku manusia, serta apa yang dikejar oleh setiap orang dalam hidupnya sebagai suatu yang bernilai.

b.      Etika Normatif adalah etika yang menetapkan berbagai sikap dan perilaku yang ideal dan seharusnya dimiliki oleh manusia atau apa yang seharusnya dijalankan oleh manusia dan tindakan apa yang bernilai dalam hidup ini.

3.      Prinsip kepemimpinan di Antaranya:

a.      Prinsip Tauhid, merupakan prinsip dasar dalam kepemimpinan Islam.

b.      Prinsip musyawarah, merupakan menetapkan keputusan yang berkaitan dengan kehidupan berorganisasi dan bermasyarakat.

c.      Prinsip Keadilan, seorang pemimpin harus mempunyai sifat yang adil terhadap seluruh masyarakat

d.      Perilaku pemimpin harus dapat di contoh olh bawahan.

 

B.     Saran

Demikianlah makalah yang telah kami buat, walaupun masih ada kekurangan dalam penulisan makalah ini. Semoga materi dalam makalah ini dapat bermanfaat untuki kita semua. Kami sangan mengharapkan saran dari teman-teman untuk makalah kami ini jika ada kekurangan.

 


 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

 

A. F. Djunaidi, Jurnal Filosofi Dan Etika Kepemimpinan Dalam Islam, Al-mawardi: 2005.

Badeni, M.A, Kepemimpinan dan Perilaku Organisasi, Bandung: Alfabeta, 2017

Erly Juliani, Jurnal Etika Bisnis Dalam Perspektif Islam, Jurnal Ummul Qura: Maret 2016.

Muhammad, Paradigma, Metodelogi & Aplikasi Ekonomi Syariah. Yogyakarta: Graha Ilmu, 2008.

Rahmat Hidayat, Muhammad Rifa’I, Etika Manajemen Perspektif Islam, Medan: LPPPI 2018.

 

 

 

 



[1] Muhammad, Paradigma, Metodelogi & Aplikasi Ekonomi Syariah. (Yogyakarta: Graha Ilmu, 2008), hlm. 52

[2] Ali Hasan, Manajemen Bisnis, hlm.171

[3] Erly Juliani, Jurnal Etika Bisnis Dalam Perspektif Islam, (Jurnal Ummul Qura: Maret 2016) hlm 63-64

[4] Rahmat Hidayat, Muhammad Rifa’I, Etika Manajemen Perspektif Islam, (Medan:   LPPPI 2018), hlm 149-150

[5] A. F. Djunaidi, Jurnal Filosofi Dan Etika Kepemimpinan Dalam Islam, (Al-mawardi: 2005) hlm 62-63

[6] Rahmat Hidayat, Muhammad Rifa’I, Etika Manajemen Perspektif Islam, (Medan: LPPPI 2018), hlm 11-13

 

[7] Badeni, M.A, Kepemimpinan dan Perilaku Organisasi, (Bandung: Alfabeta, 2017) hlm 135

Makalah 10

  MAKALAH   ETIKA KEPEMIMPINAN DALAM PERSPEKTIF ISLAM   MATA KULIAH : MANAJEMEN DALAM PERSPEKTIF ISLAM DOSEN PENGAMPU : SUKAND...