MAKALAH
ETIKA KEPEMIMPINAN DALAM
PERSPEKTIF ISLAM
MATA KULIAH : MANAJEMEN DALAM PERSPEKTIF ISLAM
DOSEN
PENGAMPU : SUKANDAR HADI, S.Pd.I., M.Pd.I
DISUSUN OLEH :
KELOMPOK 8
1.
ERA FAZIRA
(T.MPI.1.2019.030)
SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM
SYEKH MAULANA QORI (SMQ)
BANGKO
PRODI MANAJEMEN PENDIDIKAN
ISLAM
TAHUN PELAJARAN 2021
KATA PENGANTAR
Bismillahhirrahmanirrahim
Pertama dan yang paling utama, kami
memanjatkan puja dan puji syukur atas kehadirat Allah SWT, karena telah
melimpahkan segala rahmat dan hidayahnya sehingga kami dapat menyelesaikan
makalah ini dengan tepat waktu.
Shalawat dan salam semoga tetap tercurahkan
kepada Nabi tercinta Muhammad SAW. Di mana atas inayah-Nya dan berkah Nabi-Nya
telah membawa kita dari zaman kejahilan menuju zaman yang penuh dengan ilmu
pengetahuan.
Rasa terima kasih yang sangat besar kami
sampaikan kepada Dosen Pengampu yang telah membimbing dan memberikan masukan
yang bermanfaat dalam proses penyusunan makalah ini. Meskipun masih ada segala
kekurangan semoga materi dalam makalah ini dapat bermanfaat untuk kita semua. Aamiiin.
Bangko, 20
MARET 2021
Penulis
DAFTAR ISI
B. Macam-Macam Etika Dalam Kepemimpinan
C. Prinsip-prinsip Kepemimpinan Dalam Islam
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Istilah etika secara
umum merujuk pada baik buruknya perilaku manusia. Etika merupakan dasar baik
dan buruk yang menjadi referensi pengambilan keputusan individu sebelum melakukan
serangkaian kegiatan. Etika bukan hanya larangan-larangaan normative, tetapi
lebih merupakan puncak akumulasi kemampuan operasionalisasi intelegensi
manusia. Karena melibatkan kemampuan operasionalisasi intelegensi manusia,
etika juga disebut dengan sistem filsafat, atau filsafat yang mempertanyakan
praksis manusia berkaitan dengaan tanggung jawab dan kewajibannya.
Istilah manajemen
sebenarnya mengacu kepada proses pelaksanaan aktivitas yang diselesaikan secara
efisien dengan melalui pendayagunaan orang lain. George . Terry (2013)
memberikan defenisi: “management is a
distinct process consisting of planning, organizing, actuanting and contrling,
perfomed to determine and accomplish stated objectives by the use of human
beings and other resources”. Maksudnya manajemen sebagai suatu proses yang
jelas terdiri dari tindakan-tindakan perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan
dan pengendalian yang dilaksanakan untuk menentukan serta melaksanakan
sasaran/tujuan yang telah ditentukan dengan menggunakan sumber daya dan
sumber-sumber lainnya.
Pemimpin juga tidak
boleh berkhianat,dengan mengekploitasi sumber-sumber daya hanya untuk
kepentingan pribadi, keluarga maupun kelompoknya. Ada dua macam-macam etika
kepemimpinan yaitu, etika deskriptif dan etika normatif.
Prinsip-prinsip dalam
kepemimpinan islam ada diantaranya: prinsip tauhid, prinsip musyawarah, prinsip
keadilan, dan persatuan islamiyyah.
B. Rumusan Masalah
a.
Pengertian
etika manajemen
b.
Macam-macam
etika manajemendaalam kepemimpinan
c.
Prinsip-prinsip
kepemimpinan dalaam islam
C. Tujuan Masalah
a.
Untuk
mengetahui pengertian etika manajemen
b.
Untuk
mengetahui macam-macam etika manajemen dalam kepemimpinan
c.
Untuk
mengetahui rinsip-prinsip kepemimpinan dalam islam
BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian Etika Manajemen
Istilah
etika secara umum merujuk pada baik buruknya perilaku manusia. Etika merupakan
dasar baik dan buruk yang menjadi referensi pengambilan keputusan individu
sebelum melakukan serangkaian kegiatan. Etika bukan hanya larangan-larangaan
normative, tetapi lebih merupakan puncak akumulasi kemampuan operasionalisasi
intelegensi manusia. Karena melibatkan kemampuan operasionalisasi intelegensi
manusia, etika juga disebut dengan sistem filsafat, atau filsafat yang mempertanyakan
praksis manusia berkaitan dengaan tanggung jawab dan kewajibannya.[1]
Sering
kali, istilah “etika” dan “moral” dipergunakan secara bergantian untuk maksud
yang samaa, mempunyai arti yang sama. Etika berasal dari bahasa latin ‘etos’
yang berarti ‘kebiasaan’. Sinonimnya
adalah ’moral’, juga berasal dari bahasa yang sama ‘mores’ yang berarti
‘kebiasaan’. Sedangkan bahasa arabnya ‘akhlak’ bentuk jamak yang mufrodnya
‘khuluq’ artinya ‘budi pekerti’. Keduanya bias diartikan kebiasaan atau adat
istiadat (costum atau mores), yang
merujuk kepada perilaku manusia itu sendiri, tindakan atau sikap yang dianggap
benar atau baik.[2]
Berdasarkan
dari beberapa pengertian dia atas dapat disimpulkan bahwa etika merupakan suatu
kebiasaan perilaku maanusia dalam melekukan kegiatan yang dapat memunculkan
sifat baik atau buruk, dan saling berhubungan antara yang satu dengan yang
lain.[3]
Istilah
manajemen sebenarnya mengacu kepada proses pelaksanaaan aktivitas yang
diselesaikan secaraa efisien dengan melalui pendayagunaan orang lain. George .
Terry (2013) memberikan defenisi: “management
is a distinct process consisting of planning, organizing, actuanting and
contrling, perfomed to determine and accomplish stated objectives by the use of
human beings and other resources”. Maksudnya manajemen sebagai suatu proses
yang jelas terdiri dari tindakan-tindakan perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan
dan pengendalian yang dilaksanakan untuk menentukan serta melaksanakan
sasaran/tujuan yang telah ditentukan dengan menggunakan sumber dayaa dan
sumber-sumber lainnya. Dari Terry defenisi itulah bisa melihat fungsi manajemen
menurutnya. Berikut ini adalah fungsi manajemen menurut Terry :
1.
Perencanaan
(planning) yaitu sebagai dasar pemikiran dari tujuan. Merencanakan berarti
mempersiapkan segala kebutuhan, memperhitungkan matang-matang apa saja yang
menjadi kendala, dan merumuskan bentuk pelaksanaan kegiatan yang bermaksud
untuk mencapai tujuan.
2.
Pengorganisasian
(organization) yaitu sebagai cara untukmengeumpulkan orang-orang dan
menempatkan mereka menurut kemampuan dan keahliannyaa daalaam pekerjaan yang
sudah direncanakan.
3.
Penggerakan
(actuanting) yaitu untuk menggerakkan organisasi agar berjalan dengan pembagian
kerja masing-masing serta meggerakkan seluruh sumber daya yang ada dalam
organisasi agar pekerjaan atau kegiatan yang dilakukan bisa berjalan sesuai
rencana dan bisa mencapai tujuan.
4.
Pengawasan
(controlling) yaitu untuk mengawasi apakah gerakan dari organisasi ini sesuai
dengan rencana atau belum. Serta mengawasi penggunaan sumber daya dalam
organisasi agar bias terpakai secara efektif dan efisien tanpa ada yang
melenceng dari rencana.
Beberapa
pengertian manajemen diatas pada dasarnya memiliki titik tolak yang sama,
sehingga dapat disimpulkan kedala beberapa hal, yaitu: (1) Manajemen merupakan
suatu usaha atau tindakan kearah pencapaian tujuan melalui suatu proses; (2)
Manajemen merupakan suatu sistem kerja sama dengan pembagian peran yang jelas;
dan (3) Manajemen melibatkan secara optimal kontribusi orang-orang, dana,
fisik, dan sumber-sumber lainnya secara efektif dan efisien.
Jadi
etika manajemen memiliki arti pemikiran atau refleksi tentang moralitas dalam
manajemen. Moralitas disini berarti aspek baik atau buruk, terpuji atau tercela,
benar atau salah dari perilaku maanusia. Kesimpulannya etika manajemen
merupakan suatu proses dan upaya untuk mengetahuai hal-hal yang benar dan yang
salah yang berkenaan dengan praktek manajemen yang menjadi acuan seseorang atau
sekelompok orang dalam brtindak daan brtingkah laku yang berlaku dalam
sekelompok orang atau organisasi tertentu.[4]
B. Macam-Macam Etika Dalam Kepemimpinan
Pemimpin
tidak boleh membiarkan yang kuat memonopoli aset-aset negara dan yang lemah
tertindas. Pemimpin juga tidak boleh berkhianat,dengan mengekploitasi
sumber-sumber daya hanya untuk kepentingan pribadi, keluarga maupun
kelompoknya. Dua tugas ini tidak ringan. Orang yang faham tidak akan sanggup
memikulnya, kecuali bagi orang-orang yang memiliki rasa tanggung jawab besar untuk
menyelamatkan bangasa ini dari kerugian yang amat besar, yaitu kerugian dunia
dan kerugian akhirat.[5]
Adapun
macam-macam etika dalam kepemimpinan yaitu :
1. Etika Deskriptif
Etika
yang menelaah secara kritis dan rasional tentang sikap dan perilaku manusia,
serta apa yang dikejar oleh setiap orang dalam hidupnya sebagai suatu yang
bernilai. Artinya Etika deskriptif tersebut berbicara mengenai fakta secara apa
adanya, yakni mengenai perilaku manusia sebagai fakta yang terkait dengan
situasi dan realitas yang membudaya. Dapat disimpulkan bahwa tentang kenyataan
dalam penghayatan nilai atau tanpa nilai dalam suatu masyarakat yang terkait
dengan kondisi tertentu memungkinkan manusia dapat bertindak secara etis.
2. Etika Normatif
Etika
normatif adalah etika yang menetapkan berbagai sikap dan perilaku yang ideal
dan seharusnya dimiliki oleh manusia atau apa yang seharusnya dijalankan oleh
manusia dan tindakan apa yang bernilai dalam hidup ini. Jadi Etika Normatif
merupakan norma-norma yang dapat menuntun agar manusia bertindak secara baik
dan menghindarkan hal-hal yang buruk, sesuai dengan kaidah atau norma yang
disepakati dan berlaku di masyarakat.[6]
C. Prinsip-prinsip Kepemimpinan Dalam Islam
Kepemimpinan
Islam harus dilandasi ajaran Alquran dan sunah, yang acuan utamanya dan
meneladani Rasulullah saw. Dan Khulafaurrasyidin. Kepemimpinan yang di bangun
oleh Rasulullah saw. Berlandaskan pada dasar-dasar yang kokoh yang pada
prinsipnya untuk menegakkan kalimaah Allah Swt. Prinsip-prinsip atau
dasar-dasar kepemimpinan Islam adalah sebagai berikut:
1. Prinsip Tauhid
Prinsip
tauhid merupakan salah satu prinsip dasar dalam kepemimpinan islam . Sebab
perbedaan akidah yang fundamental dapat menjadi pemicu dan pemacu kekacauan suatu
umat. Oleh sebab itu, Islam mengajak kearah satu kesatuan akidah di atas dasar
yang dapat di terima oleh semua lapisan masyarakat, yaitu tauhid. Dalam Alquran
ditemukan beberapa ayat tentang prinsip ketauhidan ini salah satu di antaranya:
Firman
Allah dalam surah An-Nisa’/4:48 yang berbunyi:
اِنَّ اللّٰهَ لَا يَغْفِرُ اَنْ يُّشْرَكَ بِهٖ وَيَغْفِرُ مَا
دُوْنَ ذٰلِكَ لِمَنْ يَّشَاۤءُ ۚ وَمَنْ يُّشْرِكْ بِاللّٰهِ فَقَدِ افْتَرٰٓى
اِثْمًا عَظِيْمًا {48}
Artinya
: Sesungguhnya Allah tidak akan
mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari
(syirik) Itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barang siapa yang
mempersekutukan Allah, maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar.
2. Prinsip amausyawarah (Syuro)
Muasyawarah
berarti mempunyai makna mengeluarkan atau mengajukan pendapat. Dalam menetapkan
keputusan yang berkaitan dengan kehidupan berorganisasi dan bermasyarakat
musyawarah dalam konteks membicarakaan persoalaan-persoalan tertentu dengan
anggota masyarakat, termasuk didalamnyaa dalaam hal berorganisasi. Hal ini
sebagaimana terdapat dalam surah Ali-Imran/3: 159:
وَشَاوِرْهُمْ فِى
الْاَمْرِۚ فَاِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللّٰهِ ۗ اِنَّ اللّٰهَ يُحِبُّ
الْمُتَوَكِّلِيْنَ {159}
Artinya : “bermusyawarahlah
kamu (Muhammad) dengan mereka dalam urusan tertentu. Kemudian apabila kamu
telah membulatkan tekad, berwataklah kepada Allah Swt. Sesungguhnyaa Allah Swt
mencintai orang-orang yang bertawakal kepada-Nya”.
Meskipun
terdapaat beberapa Alquran dan sunnah yang menerangkan tentang musyawarah. Hal
ini bukan berarti Alquran telah menggambarkaan sistem kepemimpinan secaara
tegas dan rinci, nampaknya hal ini memang disengaja oleh Allah untuk memberikan
kebebasan sekaligus medan kreatifitas berfikir hamanya untuk berijtihad
menemukan sistem kepemimpinannya yang sesuai denan konisi soal-kultural. Sangat
mungkin ini salah satu sikap demokratis Tuhan terhadap hamba-hambanya.
3. Prinsip Keadilan (Al-‘adalah)
Keadilan menjadi salah satu keniscayaan dalam
memanage kepemimpinan, sebab kepemimpinan dibentuk antara lain agar tercipta
masyarakat yang adil dan makmur. Jadi, sistem kepemimpinan Islam yang ideal
adaalaah sistem yang mencerminkan keadialan yang meliputi persamaan hak didepan
umum, keseimbangan (keproposionalan) dalam memanage stakeholder yang dipimpinnya.
Allah Swt. Berfirman dalam surat An-Nahl/16 :90 yang
berbunyi :
اِنَّ اللّٰهَ يَأْمُرُ
بِالْعَدْلِ وَالْاِحْسَانِ وَاِيْتَاۤئِ ذِى الْقُرْبٰى وَيَنْهٰى عَنِ
الْفَحْشَاۤءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ {90}
Artinya : Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil
dan berbuat kebajikan, memberi kepada kaum kerabat, dan Allah melarang dari
perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepadamu
agar kami dapat mengambil pelajaran.
4. Dasar Persatuan Islamiyyah (Ukhuwah Islamiyah)
Prinsip ini untuk menggalang dan meengukuhkan semangat
persatuan daari kesatuan umat Islam. Hal ini di dasarkan pada ajaran Islam
dalam Alquran Ali-Imran/3 ayat 103 yang berbunyi :
وَاعْتَصِمُوْا بِحَبْلِ
اللّٰهِ جَمِيْعًا وَّلَا تَفَرَّقُوْا ۖ
Artinya : Dan
berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu
bercerai berai.
Adapun prinsip-prinsip lain yang perlu dipegang
dan dilakukan oleh seorang pemimpin, di antaranya adalah :
1.
Kepemimpinan
bukan sekedar keudukan khusus yang diduduki seseorang dalam suatu organisasi.
Kepemimpin adalah kemampuan, pengaruh, seni, dan proses pengaaruh-mempengaruhi
antaara pemimpin dan pengikut.
2.
Perilaku
daan tindakan pemimpin harus bias dicontoh oleh bawahan.
3.
Kepemimpinan
adalah proses. Sebagai ilmu, kepemimpinan berarti dapat dipelajaari sebab ia
memiliki beberapa prinsip yang jika di publikasikan dapat meningkatkaan
efektivitas kepemimpinan.
4.
Pemimpin
bukan seorang yang berada di puncak haerarki suatu orgaanisasi yang
terpisahakan dengan pengikutnya.
5.
Untuk
mendapatkaan kepeegikutan, seorang pemimpin harus melalui proses mempengaruhi
yang dilakukan melalui berbagai cara dengan melihat situasi bawahan.
6.
Pemimpin
perlu memberdayakan bawhan agar dapat mengidentifikasi tugas-tugas yang akaan
dilakukan dan tidak melakukan kesalahan.[7]
BAB III
KESIMPULAN
A. Kesimpulan
1.
Etika
manajemen adalah suatu proses dan upaya untuk mengetahuai hal-hal yang benar
dan yang salah yang berkenaan dengan praktek manajemen yang menjadi acuan
seseorang atau sekelompok orang dalam brtindak dan brtingkah laku yang berlaku
dalam sekelompok orang atau organisasi tertentu.
2.
Macam-macam
etika dalam kepemimpinan yaitu ada di antaranya:
a.
Etika
Deskriptif
Etika yang menelaah secara kritis dan
rasional tentang sikap dan perilaku manusia, serta apa yang dikejar oleh setiap
orang dalam hidupnya sebagai suatu yang bernilai.
b.
Etika
Normatif adalah etika yang menetapkan berbagai sikap dan perilaku yang ideal
dan seharusnya dimiliki oleh manusia atau apa yang seharusnya dijalankan oleh
manusia dan tindakan apa yang bernilai dalam hidup ini.
3.
Prinsip
kepemimpinan di Antaranya:
a.
Prinsip
Tauhid, merupakan prinsip dasar dalam kepemimpinan Islam.
b.
Prinsip
musyawarah, merupakan menetapkan keputusan yang berkaitan dengan kehidupan
berorganisasi dan bermasyarakat.
c.
Prinsip
Keadilan, seorang pemimpin harus mempunyai sifat yang adil terhadap seluruh
masyarakat
d.
Perilaku
pemimpin harus dapat di contoh olh bawahan.
B. Saran
Demikianlah makalah yang telah kami buat,
walaupun masih ada kekurangan dalam penulisan makalah ini. Semoga materi dalam
makalah ini dapat bermanfaat untuki kita semua. Kami sangan mengharapkan saran
dari teman-teman untuk makalah kami ini jika ada kekurangan.
DAFTAR PUSTAKA
A. F.
Djunaidi, Jurnal Filosofi Dan Etika
Kepemimpinan Dalam Islam, Al-mawardi: 2005.
Badeni, M.A, Kepemimpinan
dan Perilaku Organisasi, Bandung: Alfabeta, 2017
Erly
Juliani, Jurnal Etika Bisnis Dalam
Perspektif Islam, Jurnal Ummul Qura: Maret 2016.
Muhammad, Paradigma, Metodelogi & Aplikasi Ekonomi
Syariah. Yogyakarta: Graha Ilmu, 2008.
Rahmat
Hidayat, Muhammad Rifa’I, Etika Manajemen
Perspektif Islam, Medan: LPPPI 2018.
[1] Muhammad, Paradigma, Metodelogi & Aplikasi Ekonomi Syariah. (Yogyakarta:
Graha Ilmu, 2008), hlm. 52
[2] Ali Hasan, Manajemen Bisnis, hlm.171
[3] Erly Juliani, Jurnal Etika Bisnis Dalam Perspektif Islam, (Jurnal Ummul Qura:
Maret 2016) hlm 63-64
[4] Rahmat Hidayat, Muhammad Rifa’I, Etika Manajemen Perspektif Islam, (Medan:
LPPPI 2018), hlm 149-150
[5] A. F. Djunaidi, Jurnal Filosofi Dan Etika Kepemimpinan Dalam Islam, (Al-mawardi:
2005) hlm 62-63
[6] Rahmat Hidayat, Muhammad Rifa’I, Etika Manajemen Perspektif Islam, (Medan:
LPPPI 2018), hlm 11-13
[7] Badeni, M.A, Kepemimpinan dan Perilaku Organisasi, (Bandung: Alfabeta, 2017) hlm
135
